Senin, 17 September 2018

“Rantaimu Takkan Mampu Membelenggu Otakku.”


 Indonesiana Cerita dari Blora
“Rantaimu Takkan Mampu Membelenggu Otakku.”

Foto diambil dari pameran cukil 1000 wajah Pram di Sasana Bhakti Blora.

            Ketika kakiku menginjakkan di rumah masa kecil Pram, Blora, saat acara Indonesiana yang bertema “Cerita dari Blora” yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Pariwisata dengan Ikon, Sastra Blora, Sastra Dunia. Dari tanggal 12-15 September 2018. Seakan-akan, “Pram belum mati, ia masih hidup.” Rasanya beliau masih ada di sekitar rumah masa kecilnya itu. Menanam jati, membakar sampah, merokok, bahkan sedang berada di depan mesin ketik tuanya yang ber-merk Optima produk Inggris sambil cetak-cetek menuliskan buah pikirannya lalu diteruskan dengan menggunting-gunting surat kabar untuk dikliping. Dengan telaten beliau selalu mengumpulkan berita-berita yang dikemas menjadi beberapa tulisan. Pram menulis selalu dengan data. Saking banyaknya data yang dikumpulkan jika ditumpuk bisa sampai beberapa meter tingginya. Lahirlah karya-karya beliau yang memukau dunia, seperti cover-cover buku karyanya yang telah dipajang di rumah masa kecilnya, ada 50 karya. Meski beberapa yang lain telah dibakar, dilarang dan hilang ditelan sunyi.
Ruang depan rumah masa kecil Pram itu telah berhasil disulap dengan apik dan unik, hingga menjadi Pameran Memoribilia Pram. Ada juga patung Pram, foto dan lukisan-lukisan wajah Pram, serta barang-barang peninggalan Pram seperti asbak, jam tangan dan barang pecah belah (gelas,piring). Mataku mencari kesana kemari tidak menemukan topinya. Entah disimpan di mana? Ada mesin jahit, bifet kuno yang berisi perkakas-perkakas kuno dan kertas.
Sebentar lagi rumah masa kecil Pram ini akan segera di revitalisasi oleh pemerintah sebagai rumah sastra. Disediakan pula aula diskusi bagi yang akan diskusi, kamar-kamar untuk menginap bagi pengunjung dari seluruh dunia. Pram tidak lagi menjadi milik masyarakat Blora saja akan tetapi telah menjadi milik anak semua bangsa. Sesuai dengan nama perpustakaannya yaitu Pataba, Pramoedya Ananta Toer anak semua bangsa, perpustakaan yang kini telah dikelola adiknya yaitu Soesilo Toer.
Dalam rangkaian acara Indonesiana, Cerita dari Blora. Hari pertama Rabu, 12 September 2018 mulai pukul: 09.00 WIB-Selesai, Pameran Memoribilia Pram yang dilaksanakan di rumah masa kecil Pram (Perpustakaan Pataba Blora), ceremony pembukaan pameran oleh Bapak Bupati Blora dan Soft lounching “Rumah Sastra Blora”, mengangkat tokoh Pramoedya karena karyanya telah diakui dunia. Sebagai pengarang, karya-karya Pram tidak lahir begitu saja, hampir semua karya-karyanya lahir dengan proses dan perjuangan yang berdarah-darah, hidup dari penjara ke penjara yang sangat melelahkan, 1965-1979, tanpa tahu apa perkaranya dan tidak pernah diadili, itulah bukti bahwa dirinya sosok pejuang yang tidak mudah menyerah, konsisten, idealis, bahkan kekuasaan manusia tak bisa membelenggu hati dan pikirannya, beliau tetap konsisten menyuarakan idenya dengan tulisan-tulisan yang memukau. “Rantai takkan mampu membelenggu otakku.” Beliau tetap terus menulis, menulis, menulis. Seperti apa yang pernah beliau tulis: menulis adalah tugas nasional. Jika ingin hidup abadi, menulislah! Ada lagi: manusia boleh pandai setinggi langit, namun jika ia tak menulis ia akan hilang ditelan sejarah.
Meskipun Pramoedya yang telah di akui oleh dunia lewat beberapa karya-karyanya, banyak juga warga Blora yang tidak mengenalnya jika beliau adalah seorang sastrawan dunia yang pernah lahir di Hindia Belanda, tepatnya Kabupaten Blora. 6 Pebruari 1925 dan meninggal di Jakarta pada tanggal 30 April 2006 dalam usia 81 tahun. Banyak warga sekitar yang tinggal di sekitar Jetis di Jalan Sumbawa nomor 40 tidak mengenalinya, mereka bahkan mengira bahwa rumah masa kecil Pram itu adalah rumah hantu, angker, dan kosong, tak ada yang berani mendekati, baru pak Soesilo Toer adik kandung Pram kembali ke Blora dan tinggal di rumah itu, banyak tamu-tamu berdatangan silih berganti, bahkan juga banyak yang datang dari luar negeri. Orang-orang sekitar tidak mengira jika Pram adalah orang yang punya dedikasi tinggi terhadap ilmu pengetahuan, beliau sangat menyukai buku, membaca buku, menulis, dan membuat catatan-catatan sejarah. Seperti apa yang telah dikatakan oleh Muhidin M Dahlan sekitar tahun 1960-an bahwa Pram adalah seorang guru; pengajar sejarah Indonesia di Universitas Republika dan mentor utama di Akademi Multatuli sebagai bukti telah banyak lahir karya buku-buku: Arus Balik, Sang Pemula, Panggil Aku Kartini saja, Daendels, Mangir, Arok-Dedes, dan masih banyak lagi. Pram dan Blora seperti bertalian, segala kisah bentuk emosi manusia yang serba-serbi beliau tulis dengan lindap, Cerita dari Blora. Mengisahkan kesedihan, kemelaratan, ketertindasan, dan penyimpangan-penyimpangan sosial. Di mana kota Blora sebuah daerah yang kaya raya namun banyak penduduknya yang hidup tenggelam dalam kemelaratan dan kemiskinan. Ironis.
Pram selalu hadir di garda paling depan dan paling berani menyuarakan ketidakadilan. Pram membela dengan caranya sendiri. Dengan tulisan-tulisan yang beliau kumpulkan, menyusun dan mendokumentasikan menjadi sebuah laporan tertulis. Bentuk perlawanan jurnalistik kemanusiaan yang membuat penguasa megap-megap. Ketakutan dan was-was. Buatlah perlawanan yang tidak hanya cukup melawan namun buatlah perlawanan yang berdasarkan bukti dan realitas. Dalam tetralogi Buru, seorang tokoh Minke yang telah melawan dengan ketajaman penanya, ketajaman analisis datanya, melawan dengan bukti, meski kalah dan tersisih namun setidaknya diri ini telah melawan.
Pram adalah simbol perlawanan. Dalam Cukil 1000 wajah Pram, rangkaian Indonesiana hari ke-4, Sabtu, 15  September 2018 pukul 09.00 WIB-Selesai bertempat di Gedung Sasana Bhakti yang dimeriahkan oleh banyak komunitas seni seluruh Indonesia bahwa Pramoedya mampu menjelma menjadi banyak tokoh yang tidak hanya menulis namun juga membela. Setidaknya ajaran-ajaran Pram telah tersampaikan, nilai-nilai kritik sosial dalam bentuk karya lain seperti dalam karya cukil dengan tema seribu wajah Pram. Hampir seperti apa yang ada dalam setiap tokoh-tokoh yang beliau gambarkan pada karya-karya bukunya. Memang benar bahwa rantaimu takkan mampu membelenggu otakku, Pramoedya Ananta Toer. Piss!

Blora, 14 September 2018.
Rohmat Sholihin
Penulis aktif di Komunitas Kali Kening Bangilan-Tuban.

Label:

Jumat, 24 Agustus 2018

Ingin Menang? Fokus dan Jaga Emosi


https://www.google.co.id/search?q=timnas+u+23&safe=strict&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwifmLH9kIXdAhXKKY8KHcpJAa0Q_AUIDCgD&biw=1366&bih=631#imgrc=7W4Hpg9KcqCWIM:

            Detik-detik pertandingan Timnas Indonesia dengan Uni Emirat Arab dalam lanjutan 16 besar Asian Games sebentar lagi akan dimulai. Tepatnya, pukul 16.00 WIB nanti pada Jumat tanggal 24 Agustus 2018 di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Bekasi. Pertandingan ini cukup krusial, memasuki fase gugur, 16 besar. Ada rasa was-was bagi kedua tim untuk segera mengamankan tiket menuju 8 besar. Seluruh strategi dan taktik sama-sama dipersiapkan untuk meraih kemenangan dan lolos ke babak berikutnya. Terutama Timnas Indonesia sebagai tuan rumah.

Melihat peta kekuatan kedua tim bahwa tim Uni Emirat Arab jauh di atas Indonesia. Bahkan Timnas UEA (Uni Emirat Arab) pernah tampil di ajang paling bergengsi pesta sepak bola dunia yaitu Piala Dunia 1990 di Italia dengan juaranya Jerman Barat melawan Argentina. Itu menandakan bahwa UEA mempunyai tradisi sepak bola yang cukup kuat meski dalam ajang Asian Games 2018 hanya mampu menjadi peringkat ketiga dalam group C. Dan Timnas Indonesia dengan peringkat urutan 164 berada di bawah Taiwan dan Hongkong mampu menjadi kuda hitam dan melesat menjadi juara group. Luar biasa, namun jangan terlena masih ada ujian berat menuju 16 besar menghadapi Timnas UEA asuhan pelatih Magiet Skorza. Bagaimanapun pertandingan sore ini Timnas Indonesia harus sukses meraih poin kemenangan. Jangan mengandai-andai menuju final atau menjadi juara terlebih dahulu tapi lalui pelan-pelan tiap pertandingan dengan meyakinkan. Pastikan pertandingan yang berat ini adalah pertempuran yang memberikan kontribusi besar dengan semangat yang tak kunjung padam buktikan bahwa merah putih punya mental juara. Bermain dengan bebas dan hilangkan tekanan-tekanan yang bisa menghantui setiap saat. Kembangkan umpan-umpan pendek dengan cepat dan akurat dari lini ke lini, selesaikan peluang dengan baik dan jaga emosi jangan sampai terpancing oleh provokasi-provokasi yang selalu diciptakan oleh Timnas UEA karena untuk membuyarkan konsentrasi permainan. Selalu fokus dan tenang.

Meskipun dari beberapa hasil pertandingan yang pernah dilakukan oleh Timnas Indonesia asuhan dari Luis Milla melawan tim-tim dari Timur Tengah memang agak kurang sedikit menyenangkan karena banyak kekalahan. Melawan Palestina dalam babak penyisihan juga kalah 2-1. Skor tipis ini sangatlah berarti. Bagaimana semangat tim harus dibangun kembali, membenahi kelemahan-kelemahan tim yang perlu untuk diperbaiki, terutama emosi pemain. Jangan sampai emosi pemain-pemain Timnas Indonesia terpancing dengan drama-drama permainan yang akan disuguhkan oleh Timnas UEA. Semua pengamat banyak yang melihat gaya permainan Timnas UEA yang lebih mengedepankan memancing emosi lawan. Seperti yang pernah terjadi ketika melawan Timnas Malaysia dalam pertandingan uji coba bahkan sampai kisruh antar pemain. Jika ingin sukses meraih kemenangan pemain Timnas Indonesia harus menghindari itu. Tak ada sesuatu yang tak mungkin. Jangan berkecil hati. Buktikan bahwa kita bisa bermain bagus dan meraih ekspektasi lebih, inilah saatnya membuktikan bahwa tim Garuda Muda bukan tim yang lemah. Bangun sistem pertahanan yang kuat dan kokoh. Perkecil kesalahan dan jangan memberikan sedikit peluang pada lawan untuk menyerang. Bola tak ubahnya seperti politik, taktik dan strategi harus jitu.

Timnas Indonesia masih punya banyak peluang untuk memenangkan pertandingan sore hari ini. Saya kira Luis Milla bukanlah pelatih yang baru kemarin sore menangani tim, bahkan ia juga pernah punya pengalaman menangani tim dari UEA tepatnya Al Jazira, ia akan menempatkan beberapa pemain pilar-pilarnya dalam menghadapi Timnas UEA dengan tepat. Timnas Indonesia terkenal mempunyai kecepatan yang bisa dikembangkan untuk menggedor pertahanan Timnas UEA, mulai dari sayap dan tengah, juga daerah pertahanan yang dimotori oleh Kapten Hansamu Yama harus meningkatkan kewaspadaan kembali. Hasil dari pertandingan melawan Hongkong dan gol yang terjadi di gawang Timnas Indonesia adalah hasil kurangnya waspada di daerah pertahanan. Ini pekerjaan rumah Coach Luis Milla yang segera untuk dibenahi. Apalagi materi pemain-pemain UEA mempunyai postur tinggi dibandingkan dengan Timnas Indonesia, tentu saja bola-bola atas akan lebih mendominasi, jaga ketat dan waspada jika terjadi bola-bola mati dan tendangan pojok. Pemain-pemain Garuda Muda harus bisa mengembangkan permainan dengan umpan pendek dan cepat. Skill individu pemain Indonesia tidak kalah. Ini yang harus dimanfaatkan dengan matang. Jika Indonesia ingin menang, bermainlah dengan tenang dan fokus, tak usah terpancing emosi, bermainlah dengan lepas, nikmati gaya permainan ala kita, umpan pendek dan cepat. Tak ayal gol pasti akan tercipta dari Timnas Garuda Muda. Bravo sepak bola Indonesia. Tetap optimis untuk menang. Berikan kado spesial di HUT yang ke 73 Indonesia Merdeka!. Tentu saja dengan permainan yang cantik dan kemenangan. Aamiin.

Bangilan, 24 Agustus 2018.
Pukul 14:00. Belajar Analisis Tipis-tipis Timnas Kita.
Rohmat Sholihin
Penulis aktif di Tim Sepak Bola Bangilan FC.



Label:

Kamis, 23 Agustus 2018

Mendulang Harapan di Lokajaya



Tim Bangilan FC saat bertanding uji coba melawan Pemkab Tuban di Stadion Lokajaya Tuban. Dokumen pribadi. Foto. Rohmat S.

Jika ingin menjadi berani, berjuanglah terus untuk berani, berani tidak datang secara tiba-tiba tapi berani perlu untuk diperjuangkan secara terus-menerus dan tiada pernah berhenti. Kalimat ini sangat cocok untuk memotivasi semangat anak-anak muda dalam membangun tim sepak bola. Seperti tim sepak bola usia 15 dan 19 pada Bangilan FC yang beberapa hari kemarin bertanding dengan tim senior Pemkab Tuban di Stadion Loka Jaya Tuban. Tepatnya pada Jumat, 6 Juli 2018 pukul 15.30 WIB. Meski berakhir dengan kekalahan telak 4-1. Tapi makna di balik kekalahan itu sangatlah besar. Kemenangan yang mampu diraih itu adalah konsistensi dari hasil kerja keras yang berkesinambungan. Sedangkan kekalahan adalah hasil terburuk untuk kita jadikan cambuk untuk terus berusaha dengan sekuat tenaga agar menjadi menang.
Ada hal yang menarik yang perlu saya laporkan sebagai bahan kajian kita bersama. Pertama, melatih keberanian mental tanding anak-anak. Baru beberapa hari ini tim berlatih kembali secara terjadwal dan sesuai menu latihan yang seimbang. Fisik, tekhnik, dan game. Karena sebelumnya tim ini tercerai berai tidak pernah berlatih secara bersama. Ada faktor yang menghalangi, perbaikan sarana lapangan yang memakan waktu berbulan-bulan hingga tidak ada komitmen lagi untuk berlatih, juga lapangan yang belum bisa digunakan berlatih dan bertanding secara layak. Kondisi rumput dan batu-batu yang masih belum beres 100 persen, perbaikan lapangan tidak sampai tuntas, sehingga selera berlatih bersama-sama lagi menjadi hilang, menurut istilah anak muda zaman now atau kitab gaul, ill feel, hilang rasa atau tak berselera karena keadaan yang tidak mendukung. Di samping itu juga untuk keselamatan pada diri kita. Dari pada berakhir dengan cidera lebih baik tidak karena kondisi lapangan yang sangat buruk tidak bisa digunakan untuk bertanding. Saya pernah menyampaikan kritik langsung di depan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di MTs Ittihadul Islamiyah Kedungjambangan-Bangilan pada saat pertemuan pembentukan KKGO Madrasah Kecamatan Bangilan atas kondisi lapangan saat ini. Mendapat respon positif namun tidak pernah ada tindakan nyata akhirnya kita sendiri yang harus berbuat sesuatu agar lapangan bisa dipakai kembali meski masih ada beberapa titik yang perlu untuk di benahi lagi. Pelan-pelan, batu-batu yang masih ada dan berserakan menancap di lapangan kita rapikan lagi, kita benahi semampu kita dan tanah-tanah yang tidak rata kita ratakan dengan tambal sulam. Lumayan lambat laun bisa kita gunakan lagi. Berlatih kembali, menata lagi, semangat lagi dan bertanding kembali.
Kedua, menyatukan tim lagi. Dalam tim yang banyak karakter ini di satukan lagi dengan strategi dan taktik bermain yang terus berubah-rubah. Artinya memadukan tim tidak urusan mudah, perlu beberapa waktu dan proses berlatih secara intens. Sehingga kita bisa belajar dan mengetahui skill dan karakter beberapa pemain agar bisa mengembangkan beberapa strategi dalam tim.
Ketiga, memperbanyak pengalaman bertanding uji coba secara tepat dan terukur. Artinya kita bertanding harus memperhatikan waktu, tidak terlalu mepet dan tidak terlalu lama, rentang waktu harus kita atur sedemikian rupa sesuai dengan tingkat latihan dan persiapan. Idealnya dalam waktu satu sampai dua minggu kita bisa menyempatkan bertanding uji coba dengan tim yang jauh berada di atas kita secara kualitas agar kita bisa mendulang banyak pengalaman dari tim lawan yang lebih berkualitas. Namun jika kita akan mempersiapkan kompetisi kita bisa melakukan pertandingan uji coba minimal satu minggu satu kali. Di samping itu sistem pertandingan uji coba ini bisa sebagai salah satu cara untuk mengurangi kejenuhan dalam berlatih. Berlatih terus namun jarang bertanding, pasti jemu, out let dari hasil latihan menjadi semu. Tidak ada target tertentu. Motivasi pemain untuk berlatih bisa menjadi rusak.
Secara materi tim memang kita kalah. Tim Pemkab Tuban mempunyai banyak pemain-pemain yang sudah cukup berpengalaman baik secara mental, tehnik, dan skill. Sedangkan kita Bangilan FC yang banyak dihuni oleh pemain-pemian muda hanya mengandalkan kecepatan. Buktinya tidak lebih dari 10 menit tim Bangilan FC sudah bisa melesakkan bola ke gawang Pemkab Tuban. Menjelang 25 menit baru irama permainan bisa dikuasai oleh Pemkab Tuban karena materi pemain-pemainnya yang sudah cukup piawai dalam mengatur tenaga, kerja sama tim, dan skill yang mumpuni. Hingga pertandingan bubar keadaan skor mampu di balik 4-1 untuk Pemkab Tuban dengan 2 gol hasil tendangan finalti akibat pelanggaran yang dilakukan pemain-pemain Bangilan FC yang notabenenya, pemain muda, tentu saja muda segalanya termasuk skill, tehnik, dan pengalamannya. Semangat terus Bangilan FC. Bravo sepak bola Bangilan.

Lokajaya, 23 Agustus 2018.
Tulisan ini hanya sekedar belajar menganalisis tipis-tipis dari hasil pertandingan uji coba yang telah lalu.
Rohmat Shoihin
Penulis aktif di Bangilan FC.

Label:

Jumat, 03 Agustus 2018

Catatan 3 : Ada Bola di Dadaku

Ada Bola di Dadaku


            Masih ingat lagu Garuda di Dadaku, yang diciptakan oleh kelompok musik Netral. Dan biasa dinyanyikan oleh para supporter Timnas Indonesia, baik anak-anak kecil, muda, tua di setiap event sepak bola yang ada di seluruh penjuru tanah air dengan semangat menyala-nyala. Luar biasa. Masyarakat Indonesia memang gila bola atau sangat menyukai sepak bola. Belum lagi acara nonton bareng di kafe-kafe, lapangan, kecamatan, warung kopi, tempat parkir, dan bahkan di rumah masing-masing. Degup jantung dag-dig-dug, dibuatnya. Ketika Timnas kita sedang bertanding. Rasa nasionalisme kita tumbuh hanya dari pertandingan sepak bola. Sepak bola telah berhasil menjadi olahraga ikon nasionalisme. Seakan-akan bagaimanapun situasinya negara, kalau pertandingan sepak bola  Timnas menang pasti aman. Tak kan ada kemarahan rakyat meski kondisi ekonomi kian terpuruk. Jawabannya hanya singkat, yang penting Timnas kita menang. Mungkin itu terlalu berlebihan, meski Timnas kita belum berhasil lolos ke piala dunia ajang paling bergengsi event sepak bola di seluruh penjuru dunia.
Dan kita baru saja usai menonton Piala Dunia 2018 dengan gegap gempita. Demamnya juga masih tersisa. Meski masih ada yang kecewa. Jagoannya kandas. Sabar. Masih ada lagi Piala Dunia 2022. Namun jago kita kapan ya? Timnas Indonesia. Tak usah berharap banyak, siapa tahu bisa lolos. Dalam sepak bola semua serba mungkin. Masih ingat tim Italia dipecundangi oleh Korea Selatan? Bahkan yang masih hangat, Jerman sebagai juara bertahan di kandaskan oleh Korea Selatan juga dengan skor 2-0. Komplit, Korea Selatan bisa disebut sebagai Tim Jagal. Tim Jagal Korea Selatan U-19 saja juga pernah di pecundangi Timnas Indonesia U-19 dengan skor yang fantastis, 3-2, hasil hattrick Evan Dimas. Apa yang tidak mungkin dari sepak bola? Semua masih serba mungkin, maybe. Selama kerja keras dan terus berlatih dengan konsisten tak mungkin tidak. Semua bisa dicapai, proses yang baik hasil tentu baik.
Sepak bola saat ini sudah seperti nafas bagi penggemarnya. Bahkan sudah melalui tahap fanatik. Hancur lebur membela dan memberikan semangat kepada jagoannya. Sampai mati. Tak ingin jagoannya kandas. Saling tidak terima, kedua tim pun sering saling menyerang. Kacau jadinya. Bentrokpun terjadi. Imbasnya ada pengrusakan fasilitas-fasilitas umum sebagai pelampiasan rasa kesal, marah dan kecewa. Sepak bola adalah permainan, ada kalah dan ada menang seperti cabang olahraga lainnya. Bagaimanapun hasilnya kita harus belajar menerima dengan lapang dada. Tim yang kalah harus terima dan yang menang juga jangan jumawa. Sikap sportif itu harus ditegakkan setinggi-tingginya agar semuanya bisa berprestasi dengan baik, apapun itu, bukan hanya dalam sepak bola, bahkan bisa dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Bagi yang sangat menyukai sepak bola, rasa-rasanya itu: ada bola di dadaku, berdegup kencang dan berdebar-debar dalam jantung, mengalir dalam aliran darah dan menjalar ke seluruh tubuh. Pikiran yang keluar selalu bola. Bicara selalu bola. Bola melulu, kapan bosannya? Entah, sepak bola seperti makanan pokok ala orang Indoensia, yaitu nasi. Dan mungkin saja kalau Indonesia masuk piala dunia, nasipun akan ikut masuk menjadi menu piala dunia. Karena para supporter juga pasti akan nekat ikut serta melihat dan datang memberikan semangat pada tim jagoannya untuk bertanding. Aku memimpikan hal itu pasti seru. Seru “bingit,” bahasa gaulnya. Agar piala dunia menjadi lengkap. Karena ada Indonesia. Negara besar yang mempunyai jumlah penduduk hampir 250 juta jiwa, bermacam-macam suku bangsanya, luas wilayahnya, 17.506 jumlah pulaunya tersebar di lautannya yang luas. Pasti seru.
Sekedar mimpi tentu saja boleh, tiada yang melarang karena mimpi sampai kapanpun belum pernah dilarang. Dari membangun mimpi semua bisa terwujud. Bermimpilah setinggi langit. Dari mimpi akan terobsesi menata diri dan mempersiapkan diri sebaik mungkin, belajar dari waktu ke waktu tiada kenal lelah, demi mimpi. Masih takut bermimpi? Asalkan mimpi yang positif.
Membangun mimpi juga bisa dimulai dari hal yang paling sederhana. Seperti impian dalam membangun tim sepak bola tingkat bawah, dari tingkat desa. Struktur pemerintah paling bawah. Jangan salah, sulitnya juga luar biasa. Mempersiapkan beberapa fasilitas, pemain, instruktur, materi, kompetisi, pertandingan uji coba, dan juga yang lainnya. Tentu saja untuk prestasi yang baik, prestasi juara. Bukan sekedar bermain saja, siapapun pasti bisa.
Seperti Tim Bangilan FC, tim sepak bola dari Kecamatan Bangilan Kabupaten Tuban, yang lama telah vakum tak ada kegiatan apapun, mati suri lebih tepatnya, sampai lapangan di rehabpun masih belum ada tanda-tanda bangkit untuk latihan seperti biasa. Seakan-akan animo masyarakat terhadap sepak bolapun menurun drastis, dan tidak sesuai pembahasan yang di atas, selalu mendukung tim dengan fanatik dalam tanda kutip dewasa, sportif dan antusias. Para penggemar sepak bola Bangilan seperti sedang lesu, ibarat sebuah perusahaan yang bertarung di pasar saham mengalami terjun bebas, hampir pailit atau bangkrut tak ada suplai dana untuk memperbaiki situasi atau memulihkan kondisi  di pasaran. Hancur total. Imbasnya dalam kompetisi tak mampu bersaing dengan tim-tim lain yang lebih sehat dan segar-bugar.
Segala daya dan upaya harus dibangun lagi. Segera. Tidak usah menunggu waktu esok atau lusa. Sekaranglah waktu yang tepat untuk membangun tim kembali. Semua pemain-pemain harus dikumpulkan lagi, disatukan lagi, semua umur, tim usia 12 tahun, tim usia 15 tahun, dan tim usia 19 tahun ke atas. Satukan semua dalam satu visi: membangun dan memajukan kembali sepak bola Bangilan. Semarakkan lagi Gelora 17 Agustus dengan kegiatan-kegiatan olah raga, sepak bola harus kembali di tata lagi dengan baik dan tersistematis. Semua stake holder harus mendukung. Bangilan harus punya kembali tim impian, The Dream Team, yang bisa diandalkan untuk bisa berkompetisi dengan baik bukan tim yang asal comot sekelas Tarkam habis main langsung buang baik menang atupun kalah. Tapi melalui fase-fase pembinaan yang terus berkesinambungan dengan runtut dan terukur. Meski masih sangat sulit, bukan berarti tidak mungkin kita coba. Mencoba akan lebih baik daripada tidak, mencoba akan mendapatkan pengalaman dan mengerti akan kekurangan. Mencoba akan menang selangkah bagi yang tidak mau mencoba.
Sangat tidak realistis ketika ingin menjadi juara tapi malas bekerja keras. Mulai berlatihlah yang keras dan rutin penuh semangat. Karena menjadi juara itu bukanlah hal yang mudah, menjadi juara sangat sulit meski hanya tingkat yang paling bawah. Beranikah bermimpi menjadi juara pada tingkat yang lebih tinggi? Silahkan mencoba dan berlatihlah yang keras untuk mewujudkan mimpi-mimpimu. Tentu saja dalam hal apapun dan positif.
Bangilan, 4 Agustus 2018.
Rohmat Sholihin
Aktif di literasi komunitas kali kening Bangilan.






Label:

Senin, 25 Juni 2018

Reuni Bola


Tim Senior Bangilan Foto. Rohmat S.
Setinggi elang terbang tak kan pernah lupa sarangnya. Sejauh perahu berlayar tak kan lupa dengan daratan. Sejauh orang merantau tak kan lupa kampung halaman. Seberapa lama orang berpisah tak kan lupa untuk bertemu kembali, meski menyimpan dendam kesumat sekalipun setitik noda rasa rindu dalam hati pasti ingin kembali untuk bertemu. Itulah pentingnya makna bertemu kembali dengan orang tua, sanak keluarga, sahabat, dan orang-orang sekitar yang dulu pernah bertegur sapa, berbincang, apalagi pernah membangun mimpi bersama, bercanda dan tertawa bersama.
Dan pada dasarnya setiap manusia selalu menyimpan rasa rindu, ini manusiawi. Tak ada manusia yang tidak punya rindu. Bahkan setanpun juga diciptakan oleh Allah juga lengkap dengan rasa rindu, tak henti-hentinya ia selalu menggoda anak manusia. Yang dulu pernah hidup satu lingkungan yaitu di surga. Ketika manusia dalam bentuk Nabi Adam disuir oleh Allah dari surga karena suatu kesalahan, tak henti-hentinya Nabi Adam menyesal, menangis, dan merasakan kesalahan dan kekeliruan atas suatu perbuatan yang telah ia lakukan. Bahkan ia pun memohon untuk bisa kembali dan rindu akan nikmat surga yang telah disiapkan oleh Allah swt. Maka, bertaubat, menyesali suatu kesalahan sedalam-dalamnya, berintropeksi, pelan-pelan belajar kembali mengenal hidup di lingkungan yang baru yaitu bumi. Belajar dan bertahan hidup di lingkungan baru, beradaptasi dengan cuaca dan keadaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya ketika masih berada di surga. Hatinya diuji oleh Allah, apakah ia akan menjadi manusia yang putus asa atau sebaliknya, kuat dan tangguh. Sepanjang hidup ia harus belajar, belajar, belajar, tiada henti. Utlubul ilmi minal mahdi ilal lahdi, tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai (menjelang) liang lahat.
Ketika berpisah dengan Siti Hawa, Nabi Adampun rindu dan ingin bertemu kembali, segala upaya yang berdarah-darah dilakukan, Nabi Adampun terus mencari Hawa, istrinya dengan penuh ketabahan hati dan doa serta linangan air mata yang bertahun-tahun baru bisa dipertemukan kembali oleh Allah. Betapa bahagianya sepasang manusia yang bertemu kembali. Bereuni kembali dan membangun mimpi-mimpi kembali, membangun ide-ide baru dengan semangat hidup yang terus menyala-nyala. Beranak-pinak menjadi manusia dengan ras yang berbeda-beda hingga saat ini.
Dari sedikit uraian sejarah di atas menjadi inspirasi bagi kita dalam memaknai pertemuan kembali yang sekarang orang banyak menyebutnya reuni, bertemu kembali setelah berpisah dari keluarga, sahabat, teman sejawat, dengan rentang waktu beberapa hari, bulan, bahkan tahun. Ada rasa rindu dan kangen untuk bisa bercengkerama kembali, membangun mimpi-mimpi kembali, membangun harapan-harapan yang belum tersampaikan, bertukar ide dan pendapat dengan indah dan saling melengkapi, bertegur sapa dengan akrab dan familiar, tersenyum dan tertawa bersama, bahkan saling berbagi, bermain, minum dan makan bersama-sama kembali dengan tiada sekat lagi, meski status telah membedakan. Membangun kembali tali silaturrahmi yang telah putus karena faktor kesibukan masing-masing. Tak jarang mereka memaknai reuni dengan acara-acara yang lebih besar, membentuk panitia, diselingi acara-acara seperti pengajian, makan-makan, pentas musik, bermain sepak bola, bermain badminton, dan entah apa lagi, sekarang makna reuni sudah banyak diselingi dengan hal-hal yang kompleks sesuai dengan kebutuhan manusia yang terus berkembang.
Itu hanya gambaran secara umum tentang reuni. Mungkin tak terlalu penting buat teman-teman, karena terlalu ribet, sok inteleklah, atau sok-sokan, intinya mau reuni ya, ayo, tak usah ribet-ribet untuk buat tulisan atau gambar dan sebagainya, toh arti reuni bagaimanapun juga selalu sama meski dikemas dalam bentuk yang berbeda-beda, yaitu pertemuan kembali. Saya juga ikut larut dalam ajang reuni dengan teman-teman yang dulu pernah membangun mimpi dan harapan. Meski mimpi-mimpi itu belum juga kesampaian, entah kapan akan tersampaikan? Meski mimpi itu tersampaikan atau tidak hasilnya juga relatif. Mimpi-mimpi itu adalah untuk bisa menjadi pemain sepak bola. Mimpi bisa bermain sepak bola secara pprofesional. Setiap hari berlatih dengan keras, menjaga kondisi tubuh, istirahat dengan teratur, tidak tidur di atas jam sembilan malam, pantangan makan ini dan itu, bertanding dengan semangat pantang menyerah dan harus menang, membeli sepatu bola baru, membeli bola baru, memakai kaos-kaos klub favorit, berdebat saling mengunggulkan bintang favorit dan klub-klub favorit, bertaruh, bermain bertandang dengan mengumpulkan iuran-iuran secara mandiri, semua lengkap dengan susah dan senang yang menjadi kisah indah tersendiri. Dan semua itu sangat indah untuk dikenang dalam pikiran dan hati kita masing-masing.
Alhamdulillah mimpi dan keinginan untuk reuni dan bertemu kembali dikabulkan oleh Allah. Dikemas dengan pertandingan sepak bola. De javu mengingat masa-masa bermain bola bersama ketika usia kita masih muda, masih kuat berlari dengan kencang ketika masih muda, menendang bola dengan keras seperti ketika masih muda, menggocek bola dengan lihai dan lincah ketika masih muda, menangkap bola dengan tangkas ketika masih muda, mengontrol bola dengan lengket ketika masih muda, semua ingin mengukir yang indah dan kuat ketika masih muda, meski juga sangat susah untuk kita upayakan karena umur itu jujur seperti cinta sangat susah untuk kita sembunyikan, meski kita poles sebaik mungkin manusia tak kan bisa mengalahkan waktu yaitu umur, semakin tua semakin berkurang produktivitasnya manusia. Tak kan mungkin bisa kembali seperti kita muda, meski kita bisa melakukan reuni. Setidaknya kita masih bisa mengenang daripada tidak bisa mengenangnya. Bisa bertemu dan berkumpul dengan keterbatasan-keterabatasan yang ada pada diri kita masing-masing tanpa menutup-nutupi merupakan hikmah yang luar biasa bagi kita. Bisa tersenyum kembali, bertukar pikiran, tertawa, bercanda, dan tentu saja membangun ide-ide besar dan segar kembali. Ada banyak kesempatan untuk menata dan membangun kembali mimpi-mimpi yang belum tersampaikan. Mimpi tentang sepak bola yang kian redup di kampung tercinta, kecamatan Bangilan. Dulu selalu tiga besar dalam setiap pertandingan di kabupaten Tuban kini makin terpuruk dan terpuruk. Dan momen ini pas bertepatan dengan liburan hari raya dan ajang piala dunia 2018 di Russia. Mengenang kembali dengan ajang pertandingan persahabatan sepak bola sangatlah pas sebagai ajang silaturrahmi, berkomunikasi kembali melalui olahraga sepak bola bukanlah hal yang merugikan namun memberikan kesan positif dan membangkitkan semangat untuk terus berolahraga dan berprestasi. Terutama pada kalangan pemuda. Pemudalah yang harus berperan penting menjadi garda terdepan dalam berprestasi.
Tim Yunior Bangilan. Foto. Rohmat S.
Dan reuni pertandingan sepak bola dengan even persahabatan ini mendorong para pemain-pemain muda untuk lebih berlatih kembali, bermian kembali, aktif kembali dalam ajang sepak bola di kecamatan Bangilan yang kian redup. Meski pertandingan tidak resmi tapi cukup menarik. Ada nilai-nilai historis, dengan mengenang sejarah masa lalu untuk berbuat terbaik pada masa depan. Memperbaiki segala sesuatu untuk lebih baik dan lebih baik lagi jika tidak ingin terpuruk.
Ada juga banyak kesan dan pesan dari para senior yang dulu bergabung dengan Klub Putra Gelora Bangilan, Khoirul Huda, bahwa dengan adanya ajang persahabatan ini memberikan nilai baik dan prestasi yang lebih maju bagi sepak bola kecamatan Bangilan, terutama bagi pemain muda agar lebih termotivasi untuk menjadi pemain profesional, jika ada tekad yang kuat dalam hati pasti akan berhasil. Mudah-mudahan. Dan yang paling penting saling berkomunikasi dan menjaga kebersamaan. Tanpa kebersamaan yang kuat mustahil akan menjadi tim yang hebat dan kuat. Dari pemain muda juga sangat antusias, seperti kesan dan pesan yang telah disampaikan adik kita, Budi Pranoto, dengan digelarnya ajang reuni persahabatan ini menjadikan sumber inspirasi positif untuk terus maju dan berlatih kembali dengan serius. Malu dengan para senior yang sudah berusia tidak muda lagi tapi semangatnya untuk bertanding masih luar biasa.
Menunggu apa lagi? Ayo berlatihlah kembali dengan serius. Prestasi terbaik tidak datang dengan tiba-tiba tapi prestasi terbaik mampu kita raih dengan kerja keras dan semangat yang terus menyala-nyala. Sering-seringlah bertanding dari banyak pertandingan akan membiasakan mental bertanding kita kuat. Bravo teman-teman tim senior dan tim yunior. Selamat bertanding!.

Lapangan 17 Agustus Bangilan, 24 Juni 2018.
Rohmat Sholihin, penulis salah satu pemain reuni bola dan aktif dalam komunitas literasi Kali Kening Bangilan.






Label:

Kamis, 16 November 2017

K3 Gokil[1] Habis

Dok. pribadi.

Oleh. Rohmat Sholihin*
Dia punya sebutan baru lagi. Pangeran AR Hirusugi. Tambah ngetrend lagi namanya setelah kena kutukan “Hantu Riyanto”, sedikit menggeser nama sebelumnya mas “Senja” meski ia sendiri tak pernah risau dengan semua itu. Tapi ternyata ide dan khayalan sungguh bisa membuat perut kocak terpingkal-pingkal. Aneh-aneh jadinya. Coba lihatlah tulisan-tulisan yang tertera pada group ini. Komunitas Kali Kening.
Ikal Hidayat:
“Ajiiiiiooooorrrr, sadis mainnya pelet.”
Mas Blind:
“Wkwkwkwkwkwwk…..”
Ikal Hidayat:
‘Uaseeeem…”
Aku:
“Awas lo ya, jangan sampai huruf t nya dihilangkan! Bahaya.”
Kafabih:
“Blewah-blewah sekarang sudah menggantikan es degan.”
AR Hirusugi:
“Ah, Ratu Sundar Banong muncul lagi, awas lo ya diracun Ratu Tria baru tahu rasa.”
Mas Blind:
“Wkwkwkw….”
“Kampret!”
“Aseeeeeem…Mas Blind sudah sarapan?”
“Ngopi…”
“Teras Coffe.”
“Caffe Bang Iwan.”
“Kajian-kajian”
Dan entah, kata-kata lucu dan gokil lain yang lebih terpingkal-pingkal. Seandainya handphone ku sanggup menyimpannya akan aku koleksi lalu ku edit dan dijadikan buku. Seru! Mungkin.
Seru bacanya, canda-tawa mengharu biru bagai wajah-wajah tanpa dosa dari anggota Komunitas Kali Kening. Seakan-akan tak ada yang sedikitpun mengeluh tentang harga cabai merah yang naik, harga bawang merah meroket, isu Ahok, semua terlihat enjoy bukan buatan. Jika aku pas baca group ini, rasa sedih, stress, kantuk pasti mlebat, karena kosel-kosel bacanya, bayanganku langsung tertuju wajah-wajah mereka yang lucu dan tanpa beban. Namun, kreatif habis, dan itu belum berapa artikel, cerpen, dan tulisan-tulisan lain yang dishare oleh para teman-teman. Mereka punya dunia sendiri yang ingin ia ciptakan sendiri dengan kebiasaan dan kebudayaan-kebudayaan sendiri tanpa mengganggu yang lain.
            Bahkan tulisan copas saja sangat jarang kita temukan di group Komunitas Kali Kening. Mereka enggan dan merasa malu meng-copas tulisan orang lain untuk gagah-gagahan. Toh, itu bukan hasil pemikiran sendiri. Ternyata mereka punya semboyan luar biasa: membaca setabah bebatuan, berfikir sejernih air, dan berkarya sederas arus sungai. Mana ada semboyan itu dipakai oleh yang lain? Kalau bukan Komunitas Kali Kening sendiri. Dari kebiasaan-kebiasaan itu cukup mudah dibaca oleh pikiran kita bahwa komunitas ini sudah menutup diri dengan politik kekuasaan. Karena yang ada dalam kepala mereka masing-masing hanya karya dalam bentuk tulisan atau literature, apapun gendernya. Kami sangat menghargai tulisan walau bagaimanapun bentuknya. Tulisan mempunyai jiwa dibalik makna yang ada didalamnya. Ketika sastrawan sekaliber Pramoedya ditanya oleh orang yang mewawancarainya, mana tulisan pak Pram yang paling bagus? Jawaban beliau, semua tulisan yang lahir dari tangan saya itu ibarat anak rohani saya semua. Ada yang berumur pendek, ada yang berumur panjang, semua itu saya berikan kebebasan untuk menempati dunianya. Jadi saya tak pernah mengatakan tulisan ini yang paling bagus.
            Ini pernah kualami sendiri dalam komunitas kali kening. Sengaja aku copas (copy paste) dari group sebelah. Bahkan mungkin kalimatnya tidak layak, karena kalimat itu mengandung unsur pornografi. Ada kata-kata, maaf, vagina,” aku sebut kata-katanya yang paling dianggap tabu, ya vagina, setiap kali ada kata-kata itu pemikiran kita langsung ke arah jorok. Ada anggota yang mengingatkan bahwa kalimat yang aku copas itu layak atau bukan?. Meski penghuni yang lain belum mempermasalahkan karena tak ada komentar. Entah mereka yang diam merasa kecewa atau mereka memang telah memaknai kata-kata vagina adalah hal yang biasa. Sejauh ini belum aku simpulkan rasa kekecewaan-kekecewaan yang berlangsung. Dalam hatiku sendiri meski tidak membenarkan. Sampai sekarang copas itu belum hilang karena memang aku belum bisa menghilangkannya. Masih menunggu Mas Ikal untuk diajari menghapus status di Whatsapp. Maklum masih gaptek. Sekali lagi saya sebagai pihak yang telah meneruskan status negatif itu saya mohon maaf. Meski saya pernah menulis kalimat yang lebih parah lagi joroknya dalam sebuah naskah Theatre Of My Country dalam lakon “Bilik-Bilik Tirani.” Namun media sosial belum canggih dan marak seperti saat ini. Sehingga tidak begitu terekspos. Dan belum ada yang meresponnya. Sekali lagi terima kasih atas kritik dan masukannya kawan-kawan. Karena apapun yang dibangun dan dibesarkan oleh kritik akan menjadi kekuatan dan sumber inspirasi yang hebat.
            Menarik lagi komunitas ini mengajak masyarakat untuk membudayakan membaca buku. Betapa pentingnya membaca, mengarungi kata demi kata, kalimat demi kalimat dalam sebuah kotak kecil yang bernama buku. Ingin mengajak yang lain supaya melek tentang informasi dan pengetahuan. Agar otaknya tidak hanya berisi status ngeres dan tak berguna. Apalagi setiap waktu untuk dihabiskan membicarakan orang lain. Menurut istilah dikampungku, ngrasani wong. Istilah now, gosip.
            Percuma. Waktu yang telah kita pakai untuk menghirup oksigen ini hanya habis untuk beraktifitas gosip.
            Banyak kelompok-kelompok sukses hanya berawal dari banyak bercanda. Bercanda dengan sehat dan sportif tentunya. Termasuk komunitas kali kening yang awalnya hanya berapa orang personilnya namun mempunyai niat yang baik, tak tanggung-tanggung: ingin memajukan dunia literasi di sebuah pedesaan, desa Bangilan dan sekitarnya. Dan kini hampir semua orang kepingin tahu komunitas kali kening yang sedang booming. Tak tanggung-tanggung dalam waktu setahun berjalan ada banyak buku yang dilaunching, 15 karya buku dari teman-teman kali kening pun terbit. Buku-buku itu sekarang menjadi koleksi Perpustakaan Daerah Kabupaten Tuban. Sejarah belum terpecahkan, dari zaman awal desa Bangilan dan sekitarnya itu berdiri dan ada sampai sekarang belum pernah melaunchingkan sebanyak 15 karya buku dalam waktu setahun. Luar biasa bukan? Namun meski tujuan komunitas kali kening itu baik bukan berarti pihak-pihak yang merasa tersaingi dan belum mengenal lebih dalam sangat wajar memberikan penilaian yang negatif. Itu boleh saja namun alangkah gentle-nya jika asumsi itu ditulis menjadi artikel, essai, atau semacamnya kemudian bisa dishare itu akan lebih bijak dan berani. Dari pada omongan nglantur yang belum tentu benar kepastiannya. Marilah kita latihan menganalisis bersama.
            Kalau dipikir sekilas memang bekerja dalam dunia literasi tak pernah ada untungnya. Apalagi dalam sebuah pedesaan yang notabene-nya tak begitu bergairah dalam dunia literasi. Sungguh pekerjaan orang-orang gila, eh maaf, orang-orang nekat. Nekat dengan modal semangat untuk bisa mewujudkan niat baik bagi orang banyak: membaca buku itu ibadah, maka membacalah agar lebih berpengetahuan. Lantas setelah membaca banyak buku masalah menjadi tuntas dan hidup menjadi cerdas. Bukan begitu maksudnya. Membaca banyak buku itu menyaring pengetahuan-pengetahuan yang ada agar kita banyak mengerti sejauh mana teori-teori yang ada dalam buku dengan kenyataan hidup di sekitar kita. Dan untuk mengembangkan pola pikir maju. Lihatlah budaya-budaya negara maju, mereka mempunyai masyarakat yang minat bacanya sangat tinggi. Seperti Finlandia yang terkenal dengan sebutan negara dengan sistem pendidikan nomor wahid dunia hampir setiap masyarakatnya menghabiskan waktunya untuk membaca buku setiap minggu lebih dari lima buku. Jika dibandingkan dengan negara kita, sangat jauh.
            Untuk mewujudkan semua keinginan itu tidak mungkin dibutuhkan satu hari atau dua hari tapi bertahun-tahun melalui proses kehidupan panjang. Sangat melelahkan ketika kita selalu mengharap kesuksesannya. Biarkan semua berproses alamiah, biar alam yang akan menentukan. Tidak bisa hasil perjuangan bisa dirasakan dalam waktu singkat. Membangun budaya bukanlah seperti membangun gubuk namun dalam membangun budaya diperlukan perencanaan matang dan keuletan serta kegigihan dalam kemauan yang tinggi. Yang terpenting teruslah berkarya, jangan pernah berhenti berkarya. Satu karya dalam setahun lebih bagus daripada tidak pernah berkarya sama sekali. Karena dari karya-karya itu membuktikan bahwa eksistensi kita masih ada. Teringat pepatah lama: saya berfikir maka saya ada, meski Mbah Soes lebih suka dengan, karena saya ada maka saya berfikir. Silahkan dibolak-balik sendiri kawan karena membolak-balikkan sesuatu itu sangat asyik. Lebih asyik lagi dibahas didalam group Komunitas Kali Kening yang gokil abis. Tentu saja ada yang menjadi korban dan kambing hitam. Tapi, tak usah marah dan mudah tersinggung apalagi hingga menyinggung unsur SARA. Siiiiip!

Bangilan, 16 Nopember 2017
*Penulis anggota komunitas kali kening.




[1] Gokil dalam kamus bahasa gaul mempunyai arti gila dalam hal positif.

Label:

Senin, 16 Oktober 2017

“Huda Never Dies”


http://bobotoh.id/baca/innalillahi-kiper-persela-khoirul-huda-ngantunkeun

            Sepak bola tanah air kembali berduka. Kiper terbaik Persela Khoirul Huda (38 tahun) telah gugur di medan perang. Kenapa perang? Bukankah ini dalam pertandingan sepak bola. Ya, karena sepak bola tanah air situasinya seperti perang. Dari tahun 2000 sampai 2017 banyak korban berjatuhan, mulai dari sang legendaris Persebaya Eri Erianto (26 tahun) menghembuskan nafas terakhir dalam pertandingan di Stadion Gelora 10 Nopember Surabaya pada tanggal 3 April 2000 versus PSIM Yogyakarta bertabrakan dengan pemain asal PSIM asal Gabon Samson Noujine Kinga. Seketika pingsan dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Dr. Soetomo, Surabaya. Kemudian dinyatakan meninggal karena serangan jantung.  Disusul dengan Jumadi Abdi (26 tahun) pemain PKT Bontang, akibat benturan keras dengan pemain Persela Lamongan Deny Tarkas pada pertandingan 7 Maret 2009. Mengalami cidera berat pada organ vital bagian dalam lantaran infeksi berat yang disebabkan oleh kuman yang keluar dari usus halus Jumadi Abdi yang bocor. Ngeri. Ada lagi Akli Fairuz (26 tahun) pemain Persiraja yang berbenturan dengan kiper PSAP Sigit Agus Rohman dalam laga Divisi Utama pada 10 Mei 2014 di Stadion H. Dhimurthala, Lampineung. Pemain Persiraja Banda Aceh itupun meninggal setelah dirawat enam hari kemudian di Rumah Sakit Zainal Abidin Banda Aceh.
            Khoirul Huda yang akrab dipanggil Huda ini harus tumbang di laga pertandingan melawan PSP Semen Padang di Stadion Surajaya lamongan setelah bertabrakan dengan Ramon Rodriguez Mesquita teman setim yang akan mengamankan daerah pertahanannya pada menit ke-45 di babak pertama. Sungguh naas nasib kiper kawakan Persela yang luar biasa itu. Setia selama 18 tahun membela Persela Lamongan dan tak pernah merumput di tim tetangga, maaf maksudnya tim atau klub lain meski selalu digoda dengan iming-iming fasilitas dan gaji tinggi. Ia komitmen dengan Persela Lamongan yang ia bela sampai ajal menjemput. Suatu capaian tertinggi seseorang yang patut kita apresiasi bersama, khususnya masyarakat kota Soto Lamongan yang telah ia besarkan. Ia rela mati demi membela Persela Lamongan. Berjuang sampai titik darah penghabisan. Nilai pengorbanannya sama dengan pahlawan, kesetiaanya, semangatnya, bahkan harus dengan darah dan nyawa. Semoga saja pengorbanannya tak pernah dilupakan oleh banyak orang, terutama masyarakat Indoensia bahkan masyarakat dunia. Lagi-lagi pecinta sepak bola Persela Lamongan. Jasmerah kata Soekarno, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dosa besar.
            Beberapa kasus seperti di atas memang kejadian yang tidak bisa kita prediksi karena mereka sedang bermain ditengah-tengah lapangan untuk mempermainkan si kulit bundar, dan mereka selalu berharap tentang kemenangan. Seperti penulis singgung diatas bahwa bertanding sepak bola ibarat melakoni peperangan karena mereka bertempur habis-habisan hingga meraih kemenangan, bukankah dalam peperangan juga berhubungan dengan bertahan, menyerang, untuk mencapai kemenangan? Meski ungkapannya lebay tapi kenyataannya memang demikian karena dalam sepak bola ada unsur-unsur kekerasan yang bisa timbul didalamnya. Baik untuk melindungi diri maupun untuk kebutuhan tim. Dan itu berlaku sah-sah saja selama tidak menimbulkan pelanggaran yang dinilai oleh wasit sebagai pemimpin pertandingan. Meski tak jarang pemimpin pertandingan terkadang terkena kekerasan itu sendiri. Padahal secara aturan hukum dalam pertandingan sepak bola wasitlah kasta tertinggi yang keputusannya tak boleh dibantah oleh para pemain. Itupun banyak yang dilanggar, wasit masih menjadi incaran amuk oleh para pemain bahkan penonton atau supporter yang tak punya hak apapun karena ia hanya menonton saja hanya bersifat memberi dukungan.
            Pekerjaan Rumah seperti ini harus menjadi perhatian PSSI secara intens dan serius. Karena bagaimanapun juga sekecil apapun pelanggaran dalam sepak bola sepatutnya mendapatkan perhatian penuh. Jangan pernah diremehkan. Selalu terus meningkatkan kualitas dan prestasi terbaik dan itu bisa dimulai dari badan PSSI sebagai induknya sepak bola di tanah air Indonesia. Saya yakin PSSI pasti bisa apalagi ketua umumnya adalah seorang Jenderal yang sudah terbiasa menangani urusan besar. Urusan kedaulatan negara saja mampu diatasi dengan gemilang apalagi urusan hiburan olah raga sepak bola. Pasti bisa. PSSI punya badan Komisi Disiplin (KOMDIS), badan PSSI ini bisa dimaksimalkan agar sepak bola Indonesia bisa kembali berjaya meski dimulai dari kata disiplin. Tim kesehatan juga perlu terus diperhatikan demi keselamatan para pemain. Ayo PSSI pasti bisa. Agar sepak bola di Indonesia kembali punya unsur menghibur namun hiburan yang bukan mengerikan, seperti tawuran, kekerasan yang mengarah ke arah pembunuhan. Sehingga kita sebagai pendukung salah satu tim kesayangan enggan untuk datang memberikan dukungan ke Stadion karena takut terjebak dalam perang antar supporter.
            Mas “Huda” atau nama lengkapnya Choirul Huda yang lahir di Lamongan, 2 Juni 1980 ini adalah salah satu kiper terbaik Indonesia juga seorang figur yang menyenangkan. Supel dan selalu berkomitmen tinggi dalam membela tim Persela Lamongan selama 18 tahun, namun kini ia telah pergi dengan gagah laksana ksatria bertempur sampai mati dalam medan laga, tak pernah menyerah sejengkalpun demi perjuangan. Banyak kiprah dan prestasi untuk Persela Lamongan yang telah kau capai. Kau telah menjadi sang legenda, namamu akan selalu terukir dalam dada. Huda Never Dies. Lewat tulisan pendek ini yang hanya bisa saya lakukan untuk mengenangmu. Selamat jalan sang legenda Persela doa kami semua menyertaimu.

Bangilan, 17 Oktober 2017.
Rohmat Sholihin
Eks pemain sepak bola amatiran yang tinggal di desa Bangilan.
           

            

Label:

Minggu, 15 Oktober 2017

“Tulisan Empuk dari Mereka”



Beberapa hari ini saya menemukan tulisan-tulisan yang empuk dari para Bupati yang ada di Jawa Timur. Yang pertama dari Bupati Bojonegoro Suyoto atau lebih akrab dipanggil Kang Yoto. Dalam tulisannya yang empuk itu dan dimuat pada rubrik Opini Jawa Pos, sabtu 23 September 2017, judulnya : Buah Demokrasi dari Rukun Kematian. Judulnya itu bukan sembarang judul karena telah dipertahankan untuk disertasi di Universitas Muhammadiyah Malang. Yakni tulisan untuk disodorkan pada program S3 dalam mengambil gelar doktoral.
            Saya tak mau membahas lebih detail apa yang telah disampaikan dalam tulisan Kang Yoto tersebut. Saya hanya salut dengan pemikirannya yang telah dituangkan dalam tulisan. Ada beberapa nilai plus, ketika seorang pemimpin mau dan mampu menulis dengan runtut dan baik. Dari tulisan itu beliau berusaha untuk menjelaskan ide dan pendapat yang bisa dijangkau oleh khalayak ramai. Ada nilai yang telah ditawarkan pada publik bahwa saya sebagai pemimpin ingin berbuat begini. Entah pendapat itu bisa diterima atau bahkan dikritik habis-habisan oleh para pembaca itu urusan belakang yang terpenting pemimpin itu berani menyampaikan gagasan dan ide tertulis yang telah dipublikasikan. Karena jarang seorang pemimpin mampu menulis dengan baik dan empuk untuk dipahami oleh para pembaca. Disamping itu apa yang telah ditulis oleh pemimpin mencerminkan sikap dan pemikiran yang telah dituangkannya didalam tulisan tersebut. Sehingga para pembaca dan masyarakatnya menjadi sadar dan bisa menilai bahwa kualitas pemimpinnya patut diapresiasi. Bukan berarti tulisan saya ini mendiskreditkan para pemimpin yang tak bisa merangkai kata dan kalimat untuk menjadi karya tulis yang baik. Karena notabene saya hanyalah masyarakat awam yang tak ada pengaruhnya terhadap kredibilitas jabatan mereka. Tapi setidaknya pemimpin yang ideal bukan hanya pintar dan piawai dalam berorasi semata namun juga harus bisa menulis dengan baik. Ini idealnya. Dan ini menurut pendapat saya yang kebetulan suka membaca pemikiran-pemikiran hebat dari para pemimpin. Siapa tahu dari karya-karya tulis para pemimpin-pemimpin hebat mampu menghegemoni masyarakatnya untuk bergerak, tentu saja bergerak positif yang mampu membangun bangsa, agama dan negara.
            Kedua, ada lagi tulisan dari Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, yang menuliskan tentang konsep dan perkembangan wilayah yang selama ini beliau pimpin. Yakni Kabupaten Banyuwangi. Dan telah dimuat pada rubrik Opini, Jawa Pos, Sabtu 14 Oktober 2017. Dilihat dari judulnya sangat menarik, Membumikan Pancasila dalam Pembangunan. Sebagaimana pernah ditegaskan oleh Bung Karno, kemerdekaan tidak menyudahi soal-soal. Kemerdekaan malah membangunkan soal-soal. Hanya ketidakmerdekaan yang tidak memberi terang kepada soal-soal. Pandangan Bung Karno memberikan pesan bahwa kemerdekaan tidak menjadikan masalah bisa beres dalam waktu semalam. Namun, dengan kemerdekaan republik ini beroleh ruang untuk menyelesaikan beragam persoalan dengan gotong royong. Kemerdekaan yang diperlukan dalam relasi antara pusat dan daerah maupun relasi antar wilayah juga memberikan ruang bagi kehidupan di tingkat lokal untuk mendonasikan pengalaman-pengalaman terbaiknya guna saling melengkapi antar wilayah demi terwujudnya pembangunan nasional semesta berencana. Melalui tulisannya, Bupati Banyuwangi itu ingin berbagi pengalaman yang dijalankan di Banyuwangi. Setidaknya ada tiga sifat pembangunan yang dijalankan, yaitu inovatif, kerakyatan, dan gotong-royong. Dari gagasan itu lahirlah inovatif pada bidang ekonomi, bahwa selama ini Banyuwangi membangun bidang perekonomian yang bermuara pada keadilan sosial. Antara lain, proteksi pasar para pedagang kecil, memberikan ruang yang luas bagi produk pertanian lokal, inovasi-inovasi perkembangan UMKM; serta pengembangan pariwisata berbasis masyarakat (society based tourism). Bidang Sosial Budaya, pembangunan bermuara pada masyarakat yang inklusif, berdaya saing, dan berpegang teguh pada moral Pancasila. Misalnya dalam pendidikan, peningkatan akses bea siswa Banyuwangi Cerdas. Dengan menggelontorkan dana untuk membiayai 700 anak muda untuk bisa berkuliah berbagai kampus di seluruh Indonesia. Dan juga Program Garda Ampuh menjaring 3000 anak putus sekolah untuk dikembalikan ke sekolah. Dalam hal seni-budaya, program Banyuwangi Festival mampu menjadi kanal tumbuh kembangnya seni-budaya generasi muda. Tak luput dari bidikan tulisan sang Bupati Banyuwangi tersebut tentu saja pelayanan publik, dalam pelayanan publik ini pemerintahan Kabupaten Banyuwangi telah mendapatkan nilai A dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). Tulisan-tulisan para bupati yang cerdas ini memberikan keterangan berupa tulisan pada masyarakat luas bahwa wilayah pemerintahan yang telah dipimpin mempunyai trik dan cara-cara yang cerdas dalam menanggulangi segala problem yang telah dihadapinya.
            Kita kenal Bung Karno dengan tulisan-tulisannya mampu menjadi pemimpin yang baik selama ini yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia. Dari tangan beliau yang dingin banyak lahir karya-karya tulis berupa teks pidato yang setiap kali dibaca dalam acara kenegaraan atau yang lain. Gayanya dalam membaca teks-teksnya sungguh menggetarkan hati dan mengguncangkan dunia. Belum lagi tulisan-tulisan tentang konsep kenegaraan. Bahkan di masa awal perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan Indoensia beliau harus rela masuk dalam penjara, gara-gara tulisannya yang sangat lugas dan berani. Apakah ia jera untuk menulis, tidak, dalam penjara beliau lebih intens dalam menulis. Lahirlah karya monumental Di Bawah Bendera Revolusi jilid I dan II. Anda sudah pernah baca buku empuk itu? Jika belum, segera baca. Jika sudah segera menulislah seperti mereka. Maaf tapi ini saya tidak memaksa semua orang harus bisa menulis seperti gaya mereka, semua orang punya gaya dan cara menulis yang berbeda-beda.
Banyak juga tokoh-tokoh pemimpin kita yang besar dengan tulisannya, bukan hanya Ir. Soekarno. Tapi Drs.Moh Hatta wakil presiden RI yang pertama juga sangat serius dalam hal membaca dan menulis. Ketika beliau dibuang oleh Kolonial Belanda dalam pengasingan di wilayah Digoel Papua tak jarang beliau bekerja sebagai penulis lepas dan mampu menghasilkan karya tulis yang mengagumkan. Ada lagi Tan Malaka yang berjuang dengan ketajaman penanya lahirlah karya MADILOG selama beliau melakukan pengembaraan politik tingkat dunia. Lalu apa harapan dari tulisan ini yang telah saya ulas? Saya membayangkan negara besar seperti Indonesia menjadi negara yang kembre dalam hal membaca buku. Apalagi dalam menulis yang lebih sulit. Setidaknya untuk menumbuhkan hobi membaca dan menulis buku, diawali untuk menghargai dan mencintai buku itu saja sudah lebih dari cukup daripada tidak pernah sama sekali. Sangat memprihatinkan.

Bangilan, 15 Oktober 2017.

Latihan nulis.com

Rohmat Sholihin
Anggota Komunitas Kali Kening.


            

Label:

Rabu, 21 Juni 2017

“London”



https://www.facebook.com/photo.php?fbid=315023182274950&set=pcb.315024112274857&type=3&theater

Oleh. Rohmat Sholihin
Tulisan ini aku ambil dari karya salah satu peserta “Kemah Romadlon” di Madin Al-Isyroq Bate-Bangilan, (Senin/19/7/2017), dengan judul I Miss You, London, aku terkesima ketika memberikan hadiah buku Eutanasia karya Linda Tria S, padanya, kau begitu jujur dan polos ketika kutanya alasan apa sampai kau menulis judul itu? Kau ingin sekali studi di kota London. Subhanallah, luar biasa, luar biasa, tepuk tangan semua peserta pertanda kagum pada imajinasi positifnya. Berani bermimpi itu hebat. Aku salut pada mimpinya. Aku teringat buku Edensor karya Andrea Hirata, yang menuliskan kisah mimpinya pada suatu lokasi yang hanya ada pada gambar indah dengan tulisan kecil dipojoknya, Edensor, ternyata sebuah tempat dipedalaman negara Inggris. Mimpi itu ia peluk setiap waktu, mendekam dalam ingatannya sampai kapanpun, dan ternyata ia pun sampai juga ditempat yang telah ia impikan sejak masih kanak-kanak, ia telah singgah di Edensor. Melihat dari dekat tentang mimpinya sesuai dengan apa yang telah ia dekap.
I Miss You, London, ditulis oleh Halimatus Sa’diyah, perempuan kecil manis berlesung pipit, bermata bulat sebulat tekad impiannya mengejar kota London yang masih tetap diam seribu bahasa. Seakan-akan jarak Bate-London begitu dekat. Gemerlap lampu-lampu kotanya bisa terlihat diatas bukit Bate yang sunyi dengan angin malam berhembus lirih dan membisikkan kata-kata rindu, Tunggu diriku London, sebentar lagi, yah, sebentar lagi, tinjuku akan menghajarmu, tak sabar aku berlari menikammu dengan segudang mimpi-mimpiku. Namun malam kian larut membawa angan-angan itu pergi perlahan dan tetap diam.
Diam bukan berarti apatis. Dalam diamnya ia menyimpan ribuan amunisi dan kelak ia akan muntahkan dengan hebat. Impian seseorang bukanlah impian abstrak, dari impiannya banyak sejuta hal untuk menemukan jalan, jalan kemana ia akan telusuri menuju labirin imajinasinya, detak jantungnya, dan tentu saja nafasnya. Tak kan pernah berhenti sebelum ia menjambak rumput istana Buckingham, menyalami Ratu Elizabeth, berfoto dengan pengawal istana, bahkan makan malam bersama putri Midleton dan Pangeran Harry. Ah, betapa bahagianya hidup ketika alam mimpinya mampu diraihnya. Hidup memang misteri. Perjalanan seseorang tak ada yang tahu. Tak perlu berkecil hati dan pesimis dalam melaluinya. Kuatkan langkah-langkahmu disetiap jalan yang kau lalui, selalu ada pengalaman disetiap jejak-jejak kaki yang kau tinggalkan.
Suatu saat jika kau kembali menelusurinya, tak kan pernah tersesat. Setinggi-tingginya elang terbang tak kan pernah lupa daratan, dan sejauh kaki kau melangkah tak kan lupa pada kampung halamanmu yang indah dan permai. Saat kaki-kaki kecilmu berlari-lari dipematang sawah, bermain lumpur saat musim tanam padi tiba, menangkap belalang saat musim panen, dan menonton Kentrung saat acara sedekah bumi atau manganan. Kenangan-kenangan itu akan menjadi saksi abadi. Sawah, sapi, danau, pohon, juga surau kecil dipinggir kebun jagung beserta kawan-kawan sepermainan dengan wajah-wajah kebahagiaan akan selalu menari-nari dipelupuk mata saat kau menuliskan pada sebaris kalimat di kota London, bahwa Tuhan selalu memberikan kesempatan pada makhluknya yang selalu bekerja keras merebut mimpi-mimpinya. Kawan! Dari kota London ini aku menyapamu, lihatlah senyumku selalu terngiang saat kau tak disisiku, seperti apa yang aku tulis dulu, ketika tulisan lusuh dan dekil itu mendapatkan perhatian dari kakak-kakak Komunitas Kali Kening, I Miss You, London. Salam untuk Gus Shobah, ustadz dan ustadzah, Kak Ikal, Kak Joyojuwoto, Kak Adib, Kak Mashari, Kak Kafabih, Kak Zakki, Kak Rohmat, Mbak Linda, Mbak Ayra dan juga seluruh kawan-kawan yang selalu menggodaku sekaligus mendorongku, apa itu? Indahnya kebersamaan dan tentu saja senyum ceriamu, kawan.

Bate, 19 Juni 2017.



Label:

Kamis, 15 Juni 2017

Awas Virus Lebaran!

https://faiimedia.wordpress.com/2016/01/31/sujud-tilawah-sunnah-yang-hampir-punah/

Oleh. Rohmat Sholihin*
Sebentar lagi lebaran tiba. Hati senang bukan buatan. Segala persiapan untuk menyambut bulan syawal, bulan untuk saling memaafkan diantara dosa-dosa yang telah singgah di hati kita, baik disengaja maupun tak disengaja. Dengan serba baru, mulai dari baju baru, sepatu baru, sandal baru, kopyah baru, jilbab baru, cat rumah baru, mobil baru, sepeda motor baru, perhiasan baru, semua serba baru. Belum lagi berbagai macam aneka masakan, opor ayam, ketupat, kare ayam, becek, sate, rawon, soto tak ketingglan pecel lodeh dan kue juga dipersiapkan dimeja-meja perjamuan masing-masing, kacang utis, kacang goreng, keripik singkong, keripik pisang, keripik sukun, gapit, madu mongso, sagon, kurma, juga minuman sirup, air mineral kemasan,  lengkap tak ada yang ketinggalan, semua sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut bulan syawal yang penuh keberkahan dimana diri kita kembali fitri, terlahir kembali setelah sebulan melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Romadlon. Semua bergembira menyambutnya diiringi gema takbir illahi yang bertalu-talu dari surau-surau dan masjid-masjid diseluruh dunia. “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar” kalimat takbir terus bersahut-sahutan tiada putus. Dunia menjadi bergetar, hati menjadi tertunduk, dan terurai air mata mengingat dosa-dosa yang terus kita ciptakan sendiri dengan begitu mudahnya, dosa menjadi hal yang biasa dilakukan secara terbuka dan bahkan diri ini bangga melakukannya tanpa mengenal takut. Menghasut, berbohong, memfitnah, menghujat, membunuh, melukai, memperkosa, menindas, mencuri, merampok, menipu, korupsi, menjadi perbuatan yang hampir setiap hari menghiasi kehidupan lapuk ini. Dan sampai kapan dosa-dosa itu terus menghantui pada kehidupan disekitar kita? “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar,” kuatkanlah hati ini ya Allah dari keserakahan-keserakahan manusia yang telah berkoloni dengan syetan. Lindungilah hati kami beserta keturunanku dan keluargaku serta bangsaku dari perbuatan-perbuatan yang merugikan bagi diri sendiri dan orang lain. Di dalam bulan syawal ini tanganku menengadah memohon ampunan dari-Mu sebagai pencipta alam semesta ini. Kita hanyalah manusia yang tak punya kekuatan apapun di hadapan-Mu, ya Robbi. Kami hanya makhluk lemah yang bernama manusia ini yang telah Kau pilih menjadi kholifah dimuka bumi ini, meski hati kami banyak berlumur dosa dan kekurangan, meski kami sebagai bangsa yang merusak, dan suka berbuat onar, meghancurkan dan memporakporandakan tatanan-tatatan dan hukum-hukum yang telah Engkau tetapkan ya Robbi, Engkau masih memberikan keteduhan dengan sifat Maha-Mu, menyayangi, mengasihi dan memberikan segala rezeki kepada kami tanpa sedikitpun membedakan. Dalam puasa Romadlon ini, kesempatan demi kesempatan untuk berbuat kebaikan terbentang laksana samudera. Pintu-pintu langit telah Engkau buka, ampunan dan keridloan untuk umat Muhammad yang telah menjalankan ibadah puasa dan kebaikan-kebaikan selama didalam bulan suci menjadi kesempurnaan hidup yang berharga tiada banding, kemuliaannya melebihi harta kekayaan yang bertumpuk-tumpuk, kemewahan duniawi yang dipuja-puja seperti tuhan, hingga kami menjadi lupa jika diatas semua itu masih ada Engkau, ya Allah yang telah mencukupi segala kebutuhan diri ini. Izinkan aku bersujud pada-Mu, menebus dan melebur kelalaian-kelalaian yang begitu mudahnya kulakukan. Sebentar lagi, bulan istimewa Romadlon akan berlalu. Mudah-mudahan Engkau menempatkan kami sebagai umat Muhammad yang beruntung, umat yang menang setelah bertempur dengan hawa nafsu selama kurang lebih satu bulan sebagai ujian bahwa kami  harus bersabar menahan hawa nafsu, godaan yang terus berdesir dalam diri ini. Membentuk kekuatan iman kami agar menjadi iman yang imun terhadap virus-virus kelalaian-kelalaian yang semakin edan, menebar menyerang seisi dunia yang mulai merapuh ini. “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar,” kemenangan ini bukanlah kemenangan untuk kelalaian tapi kemenangan akan kesabaran dan ketabahan terhadap ujian-ujian oleh hawa nafsu duniawi yang fana, kemenangan ini bukanlah kemenangan sesaat, ber-eforia dijalan-jalan, merayakan dengan minuman keras, teler, menghisap ganja, menelan pil ekstasi, berjoget ria, seks bebas, berteriak-teriak sesuka hati, karena besok tak lagi menjalankan ibadah puasa, besok diri ini bebas kembali makan, minum, sepuas-puasnya, bebas dari puasa, makan dengan hidangan-hidangan yang telah disiapkan pada meja-meja perjamuan dengan menggunakan baju baru, sandal baru dan perhiasan baru. Seakan-akan merayakan lebaran bukan merayakan kemenangan dari ujian-ujian terhadap kesabaran dan ketabahan, tapi merayakan kemenangan dan kebebasan untuk kembali menghasut, fitnah, menggunjing, mencuri, berzina, merampok, korupsi, bohong, karena puasa suci Romadlon telah lewat. Virus-virus kemaksiatan kembali menyebar menghantui musim lebaran yang telah membuat diri kita kembali bersih, semoga iman kita benar-benar imun terhadap godaan-godaan zaman yang semakin mencekam. “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.”Aku bersimpuh kembali pada-Mu ya Allah. Laakhaulawalakuwwataillabillahilaliyyiladziim. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillaahilkhamdu.


Bangilan, 16 Juni 2017.

*Penulis anggota komunitas kali kening Bangilan.

Label:

Rabu, 14 Juni 2017

Puisi



Oleh. Rohmat Sholihin
Puisi merupakan salah satu cara untuk meluapkan emosi sesuai dengan ekspresi yang diinginkan oleh penyair. Penyair ibarat pemecah sandi kata-kata dalam puisi melalui bahasa yang akan disampaikan. Ada banyak maksud dan tujuan penyair dalam menuliskan kata-kata, namun puisi tidak harus menjadi milik penyair saja, puisi bisa menjadi bagian hidup dan berada ditengah-tengah hinggar-bingar kehidupan yang serba kompleks ini. Puisi adalah pencapaian budaya setiap manusia, melalui kontemplasi dengan melihat kejadian-kejadian yang menarik disekitarnya. Puisi seperti duta, merubah dan mendobrak tradisi yang mulai menyimpang dalam masyarakat yang mulai jengah terhadap ketertindasan dan ketidakadilan yang telah diciptakan sendiri oleh bangsa manusia, bukan bangsa yang lain. Ada banyak kelalaian-kelalaian manusia yang nilainya tanpa batas, menembus zaman-zaman mulai manusia itu diciptakan Tuhan hingga sekarang seakan kelalaian tiada mau berhenti. Selalu ada mengikuti bangsa manusia mulai bermamah biak dan beranak. 
Puisi seakan menyampaikan pesan sejarah sebagai makna abadi. Karena dituliskan dalam bentuk aksara. Seandainya puisi hanya diucapkan saja ia akan hilang ditelan sunyi. Luruh oleh waktu tanpa bekas, hanya berupa angin sepoi-sepoi berhembus membawa puisi itu pergi. Seperti lolongan anjing yang membaung, sekejap begitu mencekam, tapi tak kurang dari berapa menit ia akan hilang ditelan sunyi kembali mencair oleh suara alam. Puisi lekat dalam karya sastra, ia tulisan dan menjadi bagian karangan hasil imajinasi manusia. Setiap baris yang telah membentuk bait mengindikasikan muatan dari penyair. Bebas apa yang akan disuarakan. Puisi tak ada batas, puisi akan selalu ada menemani kehidupan manusia hingga menuju kematian.
            Puisi tak luput dari estetika, daya menarik dari puisi adalah keindahan yang ada dalam pilihan kata-kata yang sanggup menghipnotis jiwa seseorang. Kalaupun toh aku boleh memilih aku lebih suka memilih puisi yang mampu menjungkalkan kekuasaan, bagaimanapun bentuknya, termasuk puisi yang sanggup merayu hati perempuan menjadi bidadari yang tercantik seisi alam raya, merontokkan hatinya, meluruhkan jiwanya, hingga tak sadar ia masuk perangkap kata-kata dan mabuk kepayang. He..he…sentimentil.
Melawan dengan puisi tidak semua orang bisa. Peran dan tangggung jawab puisi dalam Indonesia bergerak cukup besar. Hampir semua pujangga bekerja keras untuk mencari kata-kata perlawanan untuk menuju Indonesia merdeka. Semua pujangga berkontemplasi untuk membakar semangat rakyat Indonesia yang tidak punya keberanian untuk melawan penjajahan. Seakan-akan puisi mempunyai magnet kuat untuk menggerakkan massa, menggempur musuh dan berteriak lantang, “hidup atau mati, sekali merdeka tetap merdeka,” menjadi slogan kuat jiwa perlawanan. Ribuan massa pun bergerak, bersatu dan melawan.

Puisi dimanapun tempatnya bisa menjadi warna yang bisa memoles pikiran seseorang. Berpuisilah meski kau tak bisa. Paksa. Puisi akan selalu ada dalam denyut nadimu dan terbawa kemanapun kau berpaling dari kesulitan hidup yang sangat berat sekalipun. 

Label:

Sabtu, 03 Juni 2017

Mimpi Zidane di Bulan Suci Romadlon

Oleh. Rohmat Sholihin

http://www.goal.com/en/news/722/la-liga/2017/01/06/31218232/zidane-motivated-for-madrid-to-equal-barcelonas-record
            Sebentar lagi gegap gempita dan suara riuh terompet supporter kedua kesebelasan Real Madrid (Madridistas) dengan slogannya: Hala Madrid "Jayalah Madrid" dan supporter Juventus (Jeventini) terkenal dengan slogannya : Vioci Per Noi Magica Juve (Menanglah Untuk Kami Juventus Yang Ajaib) akan saling bersahut-sahutan di partai final Liga Champions yang digelar di Millenium Stadion di kota Cardiff ibukota Wales. Tepatnya sabtu (3/6/17) atau minggu (4/6/2017) dini hari WIB pukul 01.45. Partai final Champions 2016/2017 ini akan bernuansa lain dari yang lain, sangat istimewa seperti hadiah terindah bagi penggemar sepak bola seluruh dunia. Terutama bagi umat Muslim yang tersebar di seluruh penjuru dunia, yakni tontonan menarik untuk pengantar makan sahur. Tentu saja bagi yang gila nonton bola, jika tidak gila nonton bola setidaknya mereka akan ikut terbangun dengan suara teriakan secara reflek, goooool, gooool jika bola berhasil masuk ke gawang kalau tidak masuk paling-paling akan berteriak huuuuu…huuuuu dengan nada kecewa. Ada yang lebih beruntung lagi bagi kaum ibu-ibu tidak usah susah-susah membangunkan suaminya yang biasanya tertidur pulas dan susah dibangunkan bahkan ada lelucon yang kini sedang viral dalam group-group WA, dicopas sana-copas sini secara bergantian tentu saja si pengirim memberikan kisah humor bagi pembaca pesan, bunyinya begini, dan sayapun sudah membacanya berulang-ulang lebih dari 10 kali, sampai lupa, lupa bagaimana harus menertawainya lagi, karena selera humorku sudah sampai pada titik klimaks dan membosankan. Tapi tak apalah saya ingin tetap menuliskannya lagi. Bisikkan ke kuping suami sambil pegang kepalanya dengan lembut: “Pah, apakah papah tak mau punya istri lagi?” di jamin suami akan bangun. Begitu pula untuk bangunin istri, bisikkan ke kuping sebelah kanan dengan penuh kasih sayang: “Mah, ijinin papah  nikah lagi ya.” Di jamin istri langsung bangun. Tentu saja yang akan saya bahas bukanlah copas konyol ini tapi tentang seputar final piala Champions antara Real Madrid vs Juventus.
Ada banyak sisi menarik dari kedua kesebelasan ini. Tentu saja mereka (kedua tim) punya obsesi masing-masing dan muaranya adalah kemenangan sebagai jawara untuk menggondol piala si kuping besar atau tropi Champions. Juventus paceklik gelar Champions tentu pada final kali ini menjadi perebutan yang berdarah-darah dengan kekuatan penuh. Melihat hasil prestasi Juventus dari awal  sangat menjanjikan, dari beberapa hasil pertandingan hanya kebobolan 3 gol, sungguh fantastis, Juventus punya daya pertahanan yang cukup baik dengan didukung kiper gaek yang masih mumpuni, Gianluigi Buffon (39tahun). Juventus ibarat timnas Italia, dengan pria-pria tangguh yang berada didalamnya, Giorgio Chiellini, Leonardo Bonucci, Andrea Berzagli hampir semua pemain-pemain ini tidak hanya berkualitas namun juga mempunyai kekompakan yang solid dalam mengawal lini pertahanan. Belum lagi ada Dani Alves, Alex Sandro sebagai wing back atau full back yang sangat sulit untuk ditaklukan Kareem Benzema dan Cristiano Ronaldo. Sedangkan lini depan Juventus ada Dybala dan Gonzalo Higuain di tengah dengan umpan-umpan matang, ada Mario Mandzukic. Pelatih Juventus Massimiliano Allegri kemungkinan akan menggunakan pola strategi 4-2-3-1 meski dilapangan bisa berubah dengan akselerasi permainan dari pola serangan Real Madrid yang dahsyat.
Zidane sebagai arsitek Real Madrid sepertinya merasa tertantang dan semakin penasaran dengan kutukan, apa itu? Bisakah mempertahankan juara bertaha?. Banyak rumor yang mengatakan bahwa mempertahankan gelar juara itu lebih berat. Namun, Zidane punya obsesi di Real Madrid, dalam wawancaranya oleh Murca pada tahun 2003 ia mengatakan, “saya ingin la decimal (ke-10), undecima (ke-11), dan duodecima (ke-12)” dan Zidane telah mewujudkan dua mimpi tersebut selama berada di Real Madrid, sewaktu menjadi asisten pelatih Carlo Anceloti berhasil meraih La decimal (ke-10) pada tahun 2014, menjadi pelatih penuh ia berhasil merebut undecima (ke-11), artinya masih kurang satu lagi mimpi itu yaitu mimpi duodecima (ke-12). Meski ada halangan berupa kutukan sangat sulit mempertahankan gelar juara bertahan tapi Zidane harus berani melewati jalan sempit dan sulit ini, ia juga punya banyak punggawa-punggawa yang siap bertempur mati-matian menghadapi Juventus di Millenium Stadion. Ada Toni Kroos, Luka Modric, Sergio Ramos, Marcello, Alvaro Moratta, James Rodriguez, Lucas Vasquez, Marco Asensio, dan tentu saja Cristiano Ronaldo, Kareem Benzema. Akan menjadi pertarungan sengit dengan teknik tinggi untuk bisa keluar sebagai pemenang. Untuk bisa meraih mimpi dengan sempurna memang mahal, perlu adanya kerja keras dan kerja sama tim yang solid. Zidane harus punya banyak pilihan, terus bertempur dengan dedikasi tinggi sebagai pembuktian juara sejati atau hanya cukup sebagai pecundang dan hanya dikenang oleh sejarah sebagai tim finalis saja. Gaya strategi bertanding Zidane dengan pola 4-3-3 akan berhasil atau hanya terkapar dengan tusukan musuh, Juventus? Tentu saja belum bisa dijawab hanya masih prediksi.
Sepak bola memang selalu membuat penasaran banyak orang karena menarik, dinamis dan trend. Selalu menampilkan banyak kemungkinan-kemungkinan mengejutkan yang terjadi di tengah lapangan. Terkadang ke-dramatisannya melebihi film yang paling mengecewakan. Itulah bola berbentuk bundar. Sulit mencari sudutnya karena memang tidak punya sudut. Yang jelas kedua kekuatan tim tangguh telah dipersiapkan oleh kedua pelatih yang sama-sama jenius. Akankah Zidane mampu mewujudkan mimpi indah untuk menjadi juara Champions di bulan suci Romadlon ini atau sebaliknya? Sungguh puasa tahun ini sangat beda, sangat spesial bagi umat Muslimin di dunia. Termasuk sang pelatih Zidane sendiri sebagai pemeluk Islam. Meski sepak bola tidak patut untuk mengajak atau memaksa orang lain untuk menganut agama tertentu, sepak bola adalah olahraga bukan agama, tidak ada hubungan. Hanya sahur hari ini bisa-bisa kata-kata imsaaaaaak, imsaaak bercampur dengan suara-suara heboh goooool,  gooool, jika Zidane mampu meraih mimpi kemenangan untuk jadi juara Champions dini hari ini saya ingin menulis “Mimpi Indah  Zidane di Bulan Suci Romadlon” atau bisa sebaliknya. Tapi rasanya “Mimpi Indah  Zidane di Bulan Suci Romadlon” betul-betul terjadi. Tunggu besok aku akan menulliskannya! Gooooooollll….eh bukan imsaaaaaaaaaak…..

Bangilan, 3 Juni 2017

*Penulis anggota komunitas Kali Kening Bangilan.

Label: