Jumat, 28 September 2018

Pram dalam Bingkai Bumi Manusia


https://www.idntimes.com/hype/fun-fact/stella/7-alasan-mengapa-buku-bumi-manusia-karya-pram-begitu-melegenda

Oleh. Rohmat Sholihin*

Sudah lama saya ingin menulis tentang Pram. Meski hanya dalam bentuk kata-kata sederhana. Bisa puisi atau hanya sekedar namanya saja yang bisa saya tuliskan dalam buku-buku karyanya yang saya beli, lalu saya tulis dengan tinta hitam pada sampulnya: Pramoedya Ananta Toer, pengarang besar Indonesia. Setidaknya saya pernah menuliskannya meski hanya beberapa kata. Sebab, menurut Pram sendiri bahwa menulis adalah tugas nasional. Apa pentingnya menulis? Sampai menjadi tugas nasional. Bisa di bilang bahwa menulis itu sangatlah penting melebihi kebutuhan pokok, makan, minum dan buang air kecil maupun besar. Saya tergoda dengan ungkapannya itu. Saya bacai lagi buku-buku karyanya, mulai dari karyanya yang tipis, Bukan Pasar Malam, yang mengisahkan gejolak pengalaman pribadinya dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup bersama dengan Ayahnya ketika menjelang sakit hingga tiada. Sedangkan buku karyanya yang tebal seperti, Arus Balik, mengisahkan tentang sejarah runtuhnya Kerajaan Majapahit dan  berdirinya Kerajaan Demak. Dan masih banyak lagi buku-buku karya Pram lainnya. Tak kalah menarik tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) dari tetralogi Buru itu tak ada yang tipis. Hampir semua ditulis dalam masa pembuangan: Pulau Buru.
Nama Pram seperti tak pernah mati. Dalam kesunyian saja masih melambung tinggi. Ia sekarang sudah tiada, jasadnya sudah tenggelam dalam tanah kubur yang sudah tak lagi merah. Tapi kejujuran karyanya tak bisa dipungkiri, ibarat ombak laut semakin susah untuk dibendung. Menghantam karang-karang laut yang mencoba mematahkan semangat ide dan pemikiran yang telah dimuntahkan dalam karya sastra. Ia bukan hanya menulis tapi seperti berak. Hampir yang ada dalam perutnya ia keluarkan semua hingga ampas-ampasnya, maaf mungkin terkesan jorok. Tercecer-cecer menjadi karya yang monumental, Tetralogi Buru, bukti bahwa: di kamar yang singup dan penuh dengan keringat, novel itu lahir. Novel yang memberi gegap gempita bagi derita dan air mata, dicekal, dibakar, dan diberedel berkali-kali. Novel yang bagi Muhidin M. Dahlan (2018) disebutnya sebagai biang tragedi dan masalah, kini menjadi perbincangan paling menarik di dunia maya.[1] Namun, keyakinan Pram untuk tidak menyerah sangatlah kuat. Meski banyak jeruji yang menyudutkannya dan menghempaskannya dalam kesunyian dan keterasingan ia semakin lantang untuk terus menulis, menulis, menulis tiada kata henti. Benar apa yang telah ia tuliskan: menulis adalah keabadian. Menulis baginya adalah berenang ke samudera luas dan resiko yang ia hadapi sebagai konsekwensi sangatlah besar juga harus berani dihadapi. Namun ia berhasil mencapai suatu ruang yang telah ia cita-citakan sejak dalam pikiran yaitu keadilan. Dan keadilan tidak datang dengan sendirinya tapi dibutuhkan kerja keras dan usaha yang berdarah-darah untuk mencapainya.
Saya pernah membuat oret-oretan dalam bentuk puisi sehabis membaca Bumi Manusia, karya Pram yang sangat monumental. Meski tidak sedetail bukunya. Buku Bumi Manusia sangatlah tebal, di atas 400 halaman. Buku berat dan hanya orang jeniuslah yang bisa menulis karya setebal itu dengan apik. Baiklah, dengan terpaksa saya harus mencantumkan puisi itu disini agar rasa takut saya perlahan-lahan sirna, kenapa takut? Bumi Manusia bukanlah buku karya penulis sembarangan, dan jangan sembarangan pula mencoba-coba untuk ngawur dalam menilainya. Ah, ini mungkin saja sifat yang terlalu melebih-lebihkan sesuatu. Nyatanya ketika saya bertemu sendiri dengan sang adik kandung Pram, Mbah Soes di rumah Blora dan dengan sedikit takut saya ungkapkan beberapa tulisan padanya, ternyata responnya di luar dugaan saya, tulislah dengan berani, tak usah takut, dan tak usah sungkan-sungkan, kenalilah dirimu, dan ingat Mas Pram pernah bilang, yang terpenting dari hidup itu adalah keberanian. Sebab, orang-orang beranilah yang akan menguasai setidaknya tiga perempat dunia.
Pram memang tidak begitu produktif dalam menulis, eit, jangan kaget dulu, Pram tidak produktif dalam menulis puisi, jika tidak salah puisi itu pernah ia tulis judulnya: huruf. Dengan huruf kita mampu mengenali kasak-kusuk dunia. Ada karya puisinya yang lain, Antara Kita (Siasat) (1949), Anak Tumpah Darah (Indonesia, 1951), Kutukan Diri (Indonesia, 1951).[2] Pram lebih tertantang untuk menulis essai, cerpen, novel, roman, dan catatan-catatan harian. Meski Pram tidak pernah bilang jika ia tidak suka terhadap puisi. Apapun yang lahir dalam karya sastra baginya adalah informasi dan dokumen yang harus dihargai. Begini tulisan saya, Pram dalam Bingkai Bumi Manusia.
Minke...
Cerita...
Selamanya tentang manusia,
Kehidupannya, bukan kematiannya.
Ya...biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa atau hantu.
Dan tak ada yang lebih sulit dapat dipahami daripada sang manusia...
Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana,
Biar penglihatanmu setajam mata elang,
Pikiranmu setajam pisau cukur,
Perabaanmu lebih peka dari para dewa,
Pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan,
Pengetahuanmu tentang manusia tak kan bisa kemput.
Manusia...banyak juga manusia masuk dalam perangkap kejahilan manusia.
Kemerosotan nilai kemanusiaan adalah ketertindasan,
Ketertindasan tak kenal batas wilayah manusia,
Dimanapun manusia itu ada, ketertindasan selalu menempati ruang dengan santainya.
Entah kapan sejarah ketertindasan itu dimulai?
Tapi dahsyatnya sungguh terasa, bahkan diri kita sendiri selalu melawan ketertindasan dengan diri ini.
Hati kita,
Otak kita,
Jiwa kita,
Selalu mencoba melawan pergolakan batin yang tiada henti, setiap detik dan waktu.
Terkadang lelah, namun jangan menyerah.
Kecuali mati...
Manusia dengan pengetahuan bagai sajak dan syair.
Diotak-atik lahirlah penemuan, daya cipta dan budaya.
Itulah tingginya derajat manusia, burung terbangpun ia cipta, kelabang besipun ia temukan, kuda besipun ia buat.
Pendidikan yang membuat manusia merengkuh tinggi derajatnya.
Dari bodoh menjadi pandai, dari babu menjadi majikan, dari budak menjadi tuan, dari terjajah menjadi merdeka, dari jelata menjadi priyayi, dari tertindas menjadi melawan, dari pasif menjadi aktif, dari takut menjadi berani, dari huruf menjadi kata, dari kata menjadi kalimat, dari kalimat menjadi paragraf, dari paragraf menjadi bacaan, semua karena manusia...
Pendidikan tidaklah sempit hanya disekolah, pendidikan bisa ditempat mana saja, pendidikan tak ubahnya proses dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan tidak hanya sebatas guru dan murid, pendidikan bisa dengan siapa saja.
Jangan terlalu percaya pada pendidikan sekolah, guru yang sebaik-baiknya masih bisa melahirkan bandit yang sejahat-jahatnya, atau memang guru itu sudah bandit pada dasarnya.
Jawa...
Eropa...
Madura...
Perancis...
Belanda...
Semua sama, manusia yang mendiami bumi, berceloteh dengan suka dan duka, bergumul, bermamah biak, dan berkembang biak.
Menjadi banyak, bersuku-suku, dan mendiami bumi alam semesta.
Bumi manusia punya sejarah dan kiprah dalam kisah kehidupannya.
Mencintai,
Membenci,
Menindas,
Melawan,
 Di bumi yang sama, bumi manusia.
Minke....
Anelis....
Nyai Ontosoroh....
Herman Milema....
Hanyalah sekelumit tokoh-tokoh didalamnya, yang mengisi kisah sejarahnya sebagai manusia yang pernah singgah di bumi manusia.
Bangilan, 10 Mei 2016.
Diambil dari inspirasi buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.
Menganalisis tetralogi Bumi Manusia perhatian utama ditumpukan pada pemikiran Pramoedya yang diselundupkan melalui narasi-deskripsi, lakuan dari dialog tokoh-tokohnya. Dengan kata lain apa yang hendak disampaikan Pramoedya dalam karya itu lebih penting daripada penjelasan fakta sejarah yang terdapat di dalamnya. Bagaimanapun, sebagai seorang sastrawan yang juga penganut serius mengenai sejarah bangsanya. Pramoedya menyampaikan gagasannya melalui karya sastra. Menurut pandangan Jakob Sumardjo, sejarah merupakan harta karun budaya yang dapat digali, ditimba, ditafsirkan dalam kaitannya dengan pembicaraan masalah yang terjadi pada masa kini. Sejarah selalu dipenuhi lambang, kejadian yang tidak jelas dan karenanya menantang imajinasi untuk mengembangkannya. Sejarah sebenarnya wilayah sastrawan yang memberi berbagai keserbamungkinan.[3]
Sebagai seorang sastrawan, Prameodya amat beruntung karena dapat melepaskan dirinya dari ikatan-ikatan disiplin sejarah yang sangat terikat pada fakta, bukti dan ketetapan peristiwa. Pramoedya, justru karena itu, secara bebas menghadirkan dan membentuk tokoh-tokoh historis mengikuti apa yang hendak disampaikannya. Maka, hasilnya lahirlah tokoh Minke atau tokoh R.M. Tirto Adhisoerjo, Bapak kewartawanan bahasa Melayu di Jawa dan perintis pergerakan yang telah mendirikan Syarikat Priyayi dalam tahun 1906, yang agak lebih romantis dan lebih “bersih” daripada kenyataannya.[4] Sehubungan dengan itu, dapat dikatakan, bahwa walaupun banyak kemiripan antara tokoh utama Minke dengan R.M. Tirto Adhisoerjo (R. M. Tirto), kedua tokoh itu tidak serupa secara keseluruhan. Pramoedya sendiri menegaskan bahwa novel-novelnya harus dibaca sebagai karya fiksi, bukan sebagai buku sejarah.[5] Oleh sebab itu, tokoh utama dalam tetralogi ini bukan R.M. Adisoerjo, melainkan Minke seorang tokoh rekaan yang lahir dari sumber tokoh sejarah. Maka, usaha untuk mencari persamaan peristiwa sejarah dalam novel sejarah, hanya salah satu aspek saja, dari aspek lain yang jauh lebih penting. Mengenai pengambilan tokoh R.M. Tirto Adisoerjo, Pramoedya menjelaskan:
R.M. Tirto bukan saya maksudkan ditampilkan sebagai hero, tapi sebagai individu yang telah melepaskan diri dari kebersamaan tradisional, yang berabad lamanya jadi penghambat progres. Ini nilai cultural yang telah dicapai oleh R.M. Tirto. Sayang, bahwa setelah keluar dari kebersamaan agraris, ia belum sepenuhnya berhasil melahirkan kebersamaan baru yang relevan karena usia tidak mengizinkan.[6]
Mungkin benar pendapat yang diberikan mengenai pemilihan peristiwa dalam novel sejarah, yiatu “pemilihannya ditentukan oleh kepentingan masa kini, untuk tujuan yang dipakai ini. Dengan memilih peristiwa sejarah, ia dapat memperlihatkan persamaan masa kini dengan masa lampau. Ada kemungkinan maknanya lain. Masa lampau itu dihadirkan berdasarkan fenomena masa kini. Unsur masa kini dipindahkan ke masa lampau, tentu saja dengan penyesuaian tertentu untuk dapat diyakinkan masyarakat (pembaca). Tentunya juga, dengan menggunakan prinsip “pembentukan realitas melalui penceritaan”, “penyejarahan fiksi” dan mungkin juga sebagai “pemfiksian sejarah” oleh karena itu, di sini berlaku masa kini yang dilihat lebih khusus, sebagai sesuatu yang biasa dilakukan.”[7] Meskipun begitu, sebuah karya sastra tidak dapat ditafsirkan dengan hanya sebagai yang mengandung ajaran-ajaran tertentu, seperti misalnya,”pertentangan kelas” tanpa bukti yang lengkap. Rendra juga menegaskan bahwa kritikus harus berfikir jernih dan adil. Seorang seniman yang tidak dapat bertindak adil akan kehilangan kepekaannya terhadap kenyataan.[8] Pandangan ini sejalan dengan gagasan C.W. Watson, bahwa keseksamaan-kecermatan, ketelitian dari tanpa prasangka mutlak dituntut untuk memahami pemikiran seorang penulis novel sejarah yang sejati.[9]
Tetralogi Bumi Manusia dapat dianggap sebagai novel sejarah Indonesia yang mengandung wawasan baru. Dalam karya itu, Pramoedya menyentuh beberapa hal yang belum pernah dibicarakan sastrawan Indonesia lainnya. Ia begitu gamblang memaparkan pandangan mengenai cita pemberontakan atas kekuasaan kolonial, warisan budaya bangsa, gerakan kebangkitan bangsa di Tanah Air, dan peranan wanita dalam peralihan zaman. Namun, seperti karya-karya yang dihasilkan sebelum Pramoedya diasingkan ke Pulau Buru, humanisme tetap merupakan dasar dan latar belakang pemikirannya. Dalam sebagian karyanya terdahulu, Pramoedya menceritakan masalah individu manusia yang diilhami oleh peristiwa-peristiwa yang dialaminya sendiri.[10] Dalam tetralogi itu, ia mengolah masalah manusia sebagai warga dunia dan masalah warisan budaya yang berkaitan dengan masa depan bangsa. Kenyataan ini membuktikan bahwa pemikirannya dalam tetralogi itu lebih matang dan lebih luas dari masa sebelumnya. A. Teeuw beranggapan, bahwa karya itu adalah karya yang mempesona, matang dan arif, hasil dari sebuah kajian yang mendalam, dan lancar (mulus) dalam struktur. Dikatakannya pula, bahwa karya itu menampilkan kelahiran manusia Indonesia modern melalui penderitaan ganda: perpisahan pahit dengan dunia feodal, tradisi jawa dan penghinaan konfrontasi terhadap sistem kolonial dalam wajah aslinya yang jahat.[11]
Perlu diingat, bahwa sastra yang baik dapat menghadirkan kembali masa kehidupan, bobot, dan susunannya. Ia menciptakan kembali keseluruhan hidup yang dihayati, gejolak emosi, dan perasaan individu atau masyarakat. Hal ini dihadirkannya bersama sama secara jalin-berjalin, seperti yang terjadi dalam kehidupan yang kita hayati sendiri. Sastra yang baik menciptakan kembali desakan hidup.[12] Dengan berpegang teguh pada prinsip itu, Pramoedya berusaha mengingatkan pembaca bahwa kekuasaan kolonial telah menindas kaum pribumi di Hindia Belanda, dan peristiwa ini terjadi karena kelemahan bangsanya sendiri. Maka, dengan membuang warisan-warisan budaya yang menjadi hambatan, penindasan seperti itu dapat teratasi dan tidak berlaku lagi. Dengan demikian, Tanah Air Indonesia dapat menjadi “bumi manusia” yang sebenarnya. Menurut Pramoedya, “Bumi Manusia” adalah panggung di mana manusia memainkan peranannya. Manusia merupakan kesatuan dan abadi selagi buminya tidak musnah. Orang atau individu mempunyai jangka waktu hidup yang tertentu. Setiap orang pasti akan mati, akan tetapi manusia bersifat abadi. Bumi manusia juga berbeda dari pengertian “bumi malaikat” atau “bumi setan”. Setidak-tidaknya “bumi manusia” bukan surga juga bukan neraka, tetapi bumi yang dibangun oleh otak dan tangan manusia sendiri, bumi di mana manusia harus bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri, dia tidak mengesampingkan tanggung jawabnya pada segala yang ada di luar dirinya.[13] Pandangan itulah yang menjadi salah satu alasan hadirnya novel sejarah tetralogi Bumi Manusia. Kesengsaraan nenek moyang yang sebenarnya perlu diberitahukan kepada keturunannya. Maka fungsi novel sejarah tidak dapat diabaikan. “Novel sejarah dapat membantu pembaca kembali pada sangkan parannya (asal usulnya) sebagai bangsa. Akar dan identitas bangsa barangkali dapat diraba di sana, lewat hidangan gambaran, pengalaman masa silam para sastrawannya.”[14]
Pramoedya menggambarkan tokoh utama yaitu Minke, untuk mengungkapkan kesengsaraan rakyat pribumi dan citra pemberontak terhadap kekuasaan kolonial, warisan budaya yang menjadi hambatan, dan gerakan nasionalisme di Tanah Air. Minke adalah seorang pribumi asli yang lahir dari kehidupan priyayi yang mendapat pendidikan Eropa di HBS (Hogere BurgerSchool, Sekolah Menengah Belanda) di Surabaya. Pramoedya mengambil latar belakang kota Surabaya yang pada waktu itu sebagai kota dagang terbesar, yang melahirkan ide-ide baru dari seluruh dunia. Maka, untuk menceritakan peralihan pemikiran, kota Surabayalah yang paling tepat. Waktu itu kota Betawi (Jakarta) boleh dikatakan sebagai kota priyayi. Sebagai seorang anak bupati, Minke mendapatkan kesempatan belajar di HBS. Menurut adat bisa dipastikan Minke adalah calon bupati, karena jabatan bupati diterima turun-temurun. Minke dihormati oleh lingkungan masyarakat Jawa maupun pemerintah kolonial Belanda melalui pendidikan dan pergaulan dengan orang-orang yang berpandangan liberal dan rasional, Minke pun berubah menjadi orang yang menyadari keadaan bangsanya dan berusaha mengatasi masalah-masalah yang bersumber dari tradisi budaya.
Begitu juga seorang perempuan pribumi yang lugu dan tidak tahu apa-apa, Sanikem, yang telah dijual oleh ayah kandungnya sendiri kepada Herman Mellema sebagai gundik demi ambisi ayah kandungnya untuk naik jabatan. Sanikem yang terkenal dengan sebutan Nyai Ontosoroh ternyata bukanlah sampah hina-dina seperti yang sering tergambar pada masyarakat kolonial waktu itu. Akan tetapi berkat ajaran dan didikan tuannya, Nyai berhasil mengembangkan perusahaan pertanian di Wonokromo, Broderij Buitenzorg, dan orang Jawa yang punya lidah berbeda sering menyebut Buitenzorg menjadi Ontosoroh karena Nyai Sanikem merupakan orang yang berpengaruh di kawasan tersebut. Nyai bersama dengan Annelies (putrinya dari hasil pergundikan yang tidak bisa disahkan oleh undang-undang kolonial Belanda sebagai anak kandung) menjadi tulang punggung tegaknya perusahaan setelah Tuan Mellema disingkirkan oleh Nyai. Dalam pandangan Nyai, suaminya tidak lagi dapat dianggap sebagai manusia bermoral yang patut dihormati dan disayangi. Nyai kini menempatkan diri seakan “macan betina” yang garang: keras, tegas, pintar dan memiliki harga diri yang tidak luluh oleh penindasan. Lebih tepatnya Nyai adalah manusia dengan pribadi yang mengagumkan. Pramoedya melukiskan tokoh Sanikem yang awalnya buta huruf sebelum dijual kepada tuannya. Berkat pengajaran tuannya, Nyai mengetahui baca tulis karena tuntutan kebutuhan kemajuan zaman yang terus berkembang.
Pramoedya sebagai pengarang sangatlah komplit, di sisi lain banyak yang mengelu-elukan meskipun juga tak kalah banyak yang menghujat. Banyak karya-karyanya yang memang fenomenal sebagai karya yang banyak bernuansa humanis. Pram adalah penulis Indonesia yang semasa hidup paling sering disebut sebagai calon penerima nobel sastra. Sekaligus mungkin penulis Indonesia yang paling dikenal di jagat sastra dunia.  Misalnya banyak karya-karya Pram seperti Bumi Manusia yang telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa di dunia. Dalam bingkai “bumi manusia” Pram telah bersemayam abadi bersama dengan karya-karya lainnya.

Bangilan, 28 September 2018
*Penulis anggota Komunitas Kali Kening







[1] Jawa Pos, Bumi Manusia dan Imajinasi yang mati. Sabtu 9 Juli 2018. Hal. 4.
[2] Muhammad Rifai, Biografi Singkat 1923-2006 Pramoedya Ananta Toer, (Yogyakarat: Garasi House of Book, 2010), hlm. 80.
[3] Jakob Sumardjo, 1985, “Novel Sejarah Kita,” Kompas, 15 Oktober.
[4] Ahmat Adam, 1989, Pramoedya Toer dalam Rumah Kaca,” Dewan Sastra, Juni, hlm. 32.
[5] Prof. Koh Young Hun, Pramoedya Menggugat Melacak Jejak Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2011), hlm. 84.
[6] Surat Pramoedya kepada Marjanne Termorshuizen Arts, 6 Februari 1967.
[7] Umar Junus, 1989, Fiksyen dan Sejarah: Suatu Dialog, hlm. 137. Menurut Umar Junus, mungkin persembahan “Panembahan Rekso” Rendra juga menggunakan kemungkinan ini, yaitu membawa masa kini ke masa lampau yang entah kapan dan entah di mana.
[8] Rendra, 1981, “Si Nyai yang bikin heboh,” dalam Adhy Asmara (ed), Analisa Ringan Kemelut Bumi Manusia, hlm. 35.
[9] Lihat C.W Watson , 1983, ‘Pramoedya Ananta Toer ‘s Short Stories: An Anti Postmocularist Account,” kertas kerja untuk Fourth European Colloquim On Malay and Indonesian Studies, Leiden, 30 Mei – 2 Juni.
[10] Pada waktu menghasilkan Keluarga Gerilya dan Perburuan, Pramoedya baru berusia 24 tahun. Pramoedya juga mengakui, bahwa sewaktu menjadi tahanan di Pulau Buru, ia masih muda. Ia hanya ingin mengingat diri sendiri, dan belajar dari pengalaman, (Lihat Rita S. Hastuti, 1980. “Apa Khabar Pram!” dalam Salemba, No. 83/th. V. 20 Feb. hlm. 6)
[11] A. Teeuw, 1980, “In Indonesische Gevangenschap Geschreven,” de Volkskrant, 25 Oktober.
[12] Richat Hoggart, “Literature and Society,” Mckenzie (ed.), 1966, A. Guide in the Social Science, hlm. 226-227. 24 dalam surat kepada Farah Diba pada 6 Oktober 1980.
[13] Dalam surat kepada Farah Diba pada 6 Oktober 1980.
[14] Jakob Sumardjo, 1985, ‘Novel Sejarah Kita,” Kompas, 15 Oktober.

Label:

Selasa, 20 Juni 2017

“Kemah Romadlon dan Membagi Takjil”
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1362953533784039&set=a.232030356876368.56736.100002082161897&type=3&theater&notif_t=like_tagged&notif_id=1497922037943190 
Oleh. Rohmat Sholihin*
Menjalani puasa Romadlon tahun ini begitu indah dan menyenangkan. Pertama, perasaan ini sangat gembira karena beberapa hari kemarin telah dihubungi oleh pengasuh Madrasah Diniyah Al-Isyroq Bate-Bangilan, K.H Nurusshobah Uzair untuk berkenan mengisi materi tentang jurnalistik dalam rangka pembekalan rohani melalui kegiatan “Kemah Romadlon” yang diadakan selama 4 hari 3 malam di desa Bate-Bangilan. Tentu saja yang diminta untuk menjadi mentor bukanlah diri saya  namun kawan-kawan Komunitas Kali Keninglah yang lebih pantas. Sebagai komunitas yang bergerak dalam dunia literasi yang banyak dihuni oleh kawan-kawan super seksi, maksudnya seksi disini bukanlah dari segi tubuh saja namun otak mereka sangatlah seksi, otak yang telah banyak digunakan untuk membaca berbagai macam literasi bahkan dilanjut dengan menulis beberapa karya tulis telah berhasil diwujudkan. Superb! Menariknya lagi komunitas ini berada dipedesaan namun logika berfikirnya melampui batas-batas territorial sekalipun. Otaknya yang seksi mampu menalar dan menjangkau imajinasi-imajinasi kritis. Sungguh sebuah komunitas yang benar-benar mampu menuliskan sebuah peradaban untuk masa mendatang. Kita ini tumbuh dalam bayang-bayang literasi yang suram, literasi yang seharusnya mampu menuliskan dengan kejujuran dan kebenaran telah dirampas oleh suatu kepentingan yaitu kekuasaan. Sehingga kebebasan seseorang untuk berliterasi cenderung tertekan bahkan ketakutan. Kebebasannya telah terbelenggu teror dan ancaman sehingga beberapa generasi sebelumnya tak bisa menuliskan apa-apa. Dan kita telah kehilangan segalanya berupa fakta dan informasi sebagai perkembangan dikemudian hari. Mau tak mau generasi sekarang harus bisa menjadi “yeats”, suatu istilah yang berarti segala sesuatu telah hancur dan kini di bangun lagi oleh orang-orang yang gila. Kenapa orang gila? Karena perbedaan gila dengan jenius sangatlah sedikit. Orang waras tak tahu apa yang dikerjakan oleh orang gila begitu juga orang waras juga tak faham apa yang telah dikerjakan oleh orang jenius. Untuk membangun sebuah peradaban literasi juga dibutuhkan orang-orang yang superb.
Mengisi kelas jurnalistik dalam forum “Kemah Romadlon” Madrasah Diniyah Al-Isyroq Bate sangatlah menantang. Menantang lebih berkonotasi mengajak dan mengajak pada lapisan santri untuk menyukai membaca buku dan menulis. Meskipun dua hal tentang membaca dan menulis bukanlah istilah asing dalam dunia santri namun membaca dan menulis model bagaimana yang akan kita suguhkan pada mereka. Membaca kitab kuning tentu saja kita tak ada apa-apanya dengan mereka, menulis maqolah dan maknani kitab kuning kita akan menjadi makhluk asing dinegeri tuan, setidaknya perasaan itu yang hinggap dalam hati, hingga minder tingkat tinggi memeluk batin ini. Tapi jika ingat pada sebuah kepercayaan dari tawaran pengasuh Madin Al-Isyroq, KH Nurusshobah untuk mengisi materi jurnalistik di kemah Romadlon tahun ini, tentu saja semua hal itu telah beliau perhitungkan secara matang, bahkan tidak menutup kemungkinan proses penunjukan Komunitas Kali Kening melalui sholat istikhoroh beliau juga. Ada kemampuan tersendiri yang tidak semua orang punya. Dan kebetulan kemampuan itu dibutuhkan untuk membangun peradaban pada sebuah desa terpencil yang bernama Bate, yaitu Madrasah Diniyah dan literasi, membuat tulisan yang bergender essai, puisi, dan cerpen. Agar santri bisa dan membiasakan menuliskan segala kisah yang telah dialaminya, setidaknya tulisan telah menjadi bagian dari hidup mereka. Acara dipandu oleh kawan Linda Tria S, materi Free writing oleh Joyojuwoto, Pentingnya Menulis dalam Islam oleh kawan Rohmat Sholihin. Kelas essai oleh Ikal Hidayat Noor, kelas cerpen oleh Ayra Izzara R, Adib, Kafabih, kelas puisi oleh Mashari, Zakki.
Seperti yang telah dirasakan Komunitas Kali Kening ini, bahagia itu menulis, bahagia itu membaca, bahagia itu menyampaikan, dan satu lagi, mengarang itu penting. Kita bisa berbagi perasaan bahagia ini kepada yang lain, di bulan suci Romadlon yang penuh limpahan rahmat dan berkah ini merupakan kesempatan untuk berbagi bersama-sama dalam hal positif, menebarkan benih-benih kebaikan pada sesama, saling belajar, saling berdiskusi yang dulu menjadi kebiasaan-kebiasaan para sahabat nabi dalam memecahkan segala permasalahan hingga Islam mampu meraih masa kejayaan. Begitu juga dalam dunia literasinya. Banyak perpustakaan-perpustakaan yang telah dibangun pada masa kejayaan Islam baik dikota Baghdad, Kufah, Cordoba dan kota-kota lainnya seiring perkembangan ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan oleh banyak kalangan kaum Muslimin. Peradaban yang maju tak lepas dari perkembangan literasi yang maju pula. Mudah-mudahan niat baik Komunitas Kali Kening dan Madrasah Diniyah Al-Isyroq dalam hal memajukan dunia literasi di daerah desa terpencil Bate mampu menjadi kegiatan yang sangat bermanfaat bagi kita semua.
Dalam kesempatan itu, kawan-kawan Komunitas Kali Kening juga membagikan beberapa buku-buku karyanya sebagai cinderamata kepada para santri agar mereka tetap semangat dalam membaca. Secercah Cahaya Hikmah dan Jejak Sang Rosul karya Joyojuwoto, Patung di kepala karya Ikal Hidayat Noor, Taprobane karya JJ. Hulux, let’s move on karya Nindya Azalea dan yang terbaru sekalian launching Eutanasia karya Linda Tria Sumarno, suasana kebersamaan inilah yang membuatku merasa Romadlon tahun ini begitu indah.
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=757692974433585&set=pcb.757693174433565&type=3&theater
Kedua, ikut membantu membagi takjil dalam suasana Romadlon sangatlah istimewa. Salah satu anggota Komunitas Kali Kening, mbak Ayra Izzara R dengan usahanya dalam bidang kuliner Bakso Arebang telah membagikan takjil bakso sebanyak 600 bakso lebih dijalan Bangilan-Senori tepatnya didepan SDN Ngrojo, suasana bahagia bisa berbagi dengan orang lain menjadi virus kebaikan yang tak terlupakan. Dilanjutkan buka bersama dirumah mbak Ayra Izzara R yang diselingi dengan diskusi bareng dengan tema, Lailatul Qodar  disampaikan kawan Ibrohim dan Joyojuwoto. Semua itu menjadi inspirasi positif bagi kemajuan hati dan pikiran kita sebagai manusia biasa yang cenderung berbuat kekeliruan. Semoga apa yang telah dilakukan kawan-kawan Komunitas Kali Kening dalam bagi takjil ini dapat menjadi amal yang baik wabil khusus, mbak Ayra Izzara R dan sekeluarga. Mudah-mudahan Allah selalu memberikan kesehatan serta rezeki yang melimpah serta barokah. Aamiin.

Bate, 19 Juni 2017.

*Penulis anggota komunitas kali kening Bangilan.

Label:

Minggu, 18 Juni 2017

Pentingnya Menulis dalam Islam

Komunitas Kali Kening
Pentingnya Menulis dalam Islam

 https://maeska.blogspot.co.id/2014/08/5-mudah-cara-membuat-kalimat-pembuka.html

Oleh. Rohmat Sholihin*


"Ikatlah ilmu dengan menulis" (Ali ibn Abi Thalib).
Makna kalimat diatas sangatlah penting bagi kita sebagai umat muslim, bahwa tulisan sangatlah penting bagi memahami sebuah informasi atau ilmu. Kita tahu bahwa Islam pernah mengalami” masa emas” hampir kemajuan ilmu dan teknologi berkembang pesat pada masa kejayaan Islam. Seperti kalimat yang telah diungkapkan oleh Ali ibn Abi Thalib diatas bahwa menulis adalah salah satu cara untuk mengikat ilmu. Ilmu akan sangat mudah terlepas jika kita hanya sekilas membaca, bahkan menghafal. Karena manusia sebagai gudangnya lupa. Suatu saat ilmu yang telah dihafalnya akan menjadi hilang sehubungan dengan faktor tingkat usia dan permasalahan-permasalahan yang telah dihadapi setiap hari. Ada beberapa manfaat tulisan dalam pandangan Islam yakni :
1.      Sebagai sarana untuk berdakwah
Tulisan salah satu cara untuk memperkenalkan dan menyampaikan pengetahuan kepada masyarakat luas. Di dalam Al-Qur’an sendiri ada istilah Al Kitab dan Al-Qur’an. Al Kitab yang berarti tulisan telah disebutkan didalam Al-Qur’an sebanyak 230 kali sedangkan Al-Qur’an yang berarti bacaan sebanyak 56 kali, dari segi kuantitas bahwa betapa pentingnya makna tulisan didalam Al-Qur’anul Karim meski hubungan antara membaca dan menulis sangat erat. Dengan tulisan segala sesuatu bisa tersampaikan dengan rinci dan runtut. Maka dari itu Al-Qur’an yang telah diturunkan oleh Allah untuk manusia melalui Nabi Muhammad saw jangan sampai punah karena melihat para sahabat yang telah hafal Al-Qur’an mengalami gugur dimedan perang dan hal ini dikhawatirkan punahnya Al-Qur’an sebagai wasiat umat Islam dikemudian hari. Sehingga para sahabat berusaha keras dengan menunjuk beberapa sahabat yang mumpuni dalam bidang tersebut, seperti: Zaid bin Tsabit dengan cara menulis pada kulit unta, batu, pelepah kurma dan tulang hewan. Juga seperti hadits nabi yang telah diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhu yang berbunyi “Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhori) dan tentu saja cara yang paling efektif adalah dengan tulisan.
2.      Mengembangkan Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan tidak akan berkembang ketika dunia tulisan tidak mengalami perkembangan. Masyarakat menjadi malas menulis suatu tanda ilmu pengetahuan akan mengalami stagnan atau kemandekan, cara yang paling efektif untuk belajar ilmu pengetahuan adalah dengan cara menulis. Dan kita harus bersyukur ketika mampu menuliskan suatu pengetahuan itu bertanda bahwa hasil karya tulisan kita akan menjadi ilmu yang bermanfaat karena suatu saat orang lain akan membacanya  dari pada pengetahuan itu tidak dituliskan dan akan menjadi hilang, hilanglah manfaat pengetahuan dalam tulisan itu. Sangat disayangkan. Apalagi sampai tega membakarnya hanya belum bisa memahaminya karena ada perbedaan pendapat. Bahkan Allah  swt yang tidak pernah lupa, telah menulis pengetahuan dalam sebuah kitab (Lauh Mahfudz), Allah mengabdikan di dalam Al-Qur’an “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhan-ku, didalam sebuah kitab!” (QS. Ta Ha :52). Jika Allah melakukan hal demikian, apa alasan kita untuk tidak melakukannya? Menulislah saudaraku terutama umat Islam karena itu bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan.
3.      Salah satu kemulyaan di akhirat
Menulis sesuatu hal yang baik akan memberikan maslahat kepada umat manusia. Didasari keikhlasan dan hanya karena Allah, kemulyaan akan didapat. Tentu saja jaminannya adalah surga. Karena dengan menulis seorang hamba akan memberikan ilmu pengetahuan kepada generasi yang akan datang. Tentu saja Allah tidak akan menyia-nyiakan perbuatan hamba-Nya. Allah berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apapun, niscaya ia akan melihat balasannya.” (QS. Az Zalzalah : 7). Dan pena sebagai alat untuk menulis telah digunakan oleh Allah untuk bersumpah di dalam Al-Qur’an. Allah berfirman : “Demi pena dan apa yang  dituliskannya.” (QS. Nun : 1). Ayat ini mengartikan betapa pena dan tulisan memiliki keutamaan dan kemulyaan dihadapan Allah.
Demikianlah beberapa manfaat tulisan menurut pandangan Islam yang telah mencapai kesempurnaan. Islam juga pernah mengalami masa keemasan karena begitu menghargainya tentang tulisan sebagai sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Dengan bukti adanya Al-Qur’an dan Hadits yang sampai saat ini masih bisa kita pelajari karena berkat dari manfaat tulisan. Selamat membaca. Apabila tulisan ini kurang bisa dipahami mohon maaf dan mari kita diskusikan bersama. Wallahu A’lam Bishawab.

Bangilan, 18 Juni 2017.

*Penulis anggota komunitas Kali Kening bangilan.





Label:

Rabu, 15 Maret 2017

Menulis, Menulis, Menulis!

Oleh. Rohmat Sholihin*

https://www.maxmanroe.com/tips-cara-menulis-artikel-yang-baik.html


“Manusia pada hakikatnya adalah penulis. Apa yang ia dengar, apa yang ia lihat dan alami, ia jadikan pola. Ia percaya apa yang dapat dipikir, akan dapat pula ditulis, lambat atau cepat. Dalam setiap perjalanan dan dalam setiap peristiwa ia memperoleh bahan baru untuk di tulis atau dikarangnya.” (Goethe).

            Menulis! Masih banyak orang yang enggan dan malas untuk menulis. Orang lebih suka ngerumpi, di manapun tempatnya, di kafe, di pasar, di warung nasi, di mal, di kantor, di rumah, di kebun, di kantin, atau juga di gunung maupun di tengah-tengah laut sekalipun. Padahal orang selalu berhubungan dengan menulis meski hanya sekedar menulis kabar via SMS, bukankah itu bagian dari tulisan yang berhubungan dengan huruf dan aksara serta kata dan kalimat. Orang mengartikan penulis adalah pekerjaan yang sulit karena harus mencari berbagai data pada referensi atau sumber-sumber tulisan berasal, bisa buku, internet, majalah, koran, dan masih banyak lagi sumber-sumber tulisan yang bisa di pakai untuk bahan tulisan. Menulis itu bagai meracik bumbu masakan, asin, asam, manis, pahit, gurih, pedas, tergantung selera penulis yang akan ditonjolkan pada pembaca. Dan menulis itu mudah dilakukan setiap orang bagi yang mau mencoba dengan kesungguhan. Tak ada yang sulit dan rumit, menulis bisa dipelajari dan bisa dicoba setiap waktu. Tak usah menunggu waktu yang tepat sesuai dengan ketenangan hati serta pikiran atau merenung di tempat-tempat kesunyian dan sebagainya. Menulis bisa dilakukan dimanapun tempatnya sesuai yang di inginkan.
            Pengalaman menulis seseorang berbeda-beda sesuai dengan apa yang dialaminya, di alam pikirnya. Ada tulisan yang tragis mengiris-iris kalbu, menyayat-nyayat hati, membuat mata penuh dengan air mata, ada yang terpingkal-pingkal dan kosel-kosel karena lucunya, ada yang berkobar-kobar laksana petir membahana, ada yang praktis seperti makan mie instan, cepat saji dan maknyus rasanya. Semua tulisan-tulisan itu memberikan nuansa emosi yang berbeda-beda sesuai selera. Itulah makna sebuah tulisan yang mampu menyeruak dalam hati dan menggerakkan emosi untuk bereaksi.
            Tulisan mengibaratkan bentuk pemikiran penulis meski hanya sebuah tulisan tapi setidaknya apa yang ia torehkan dalam tulisan adalah hasil analisis dan renungan dengan segala keluh kesah dalam hati dan alam pikirnya. Kemampuan seorang penulis akan terlihat dari banyaknya tulisan yang dimuat di media massa atau diterbitkan menjadi buku. Dengan banyak berbagai media dan penerbit yang meloloskan buah pikirannya untuk dikonsumsi publik, berarti penulis tersebut telah mampu memenuhi kualifikasi, kriteria, atau penilaian dari banyak yang ahli di bidang bahasa, jurnalistik, perfilman dan pakar berbagai bidang keilmuan. Artinya oleh redaktur, editor, penulis scenario/sutradara tulisannya boleh jadi lebih diakui, dihargai, bermutu dan layak ‘saji’. 
            Bila banyak tulisan terjual, secara otomatis pemasukan uang pun akan banyak. Ini tentu yang selalu diimpi-impikan para penulis yang telah bertekad bisa mendapatkan rezeki halal dari bidang ini. Pertanyaannya, bisakah kamu meraih impian itu?
            Hanya penulis yang disiplin, ulet, sabar dan tahan banting yang memungkinkan terus berkarya. Bila mulai ada tulisan yang dimuat media massa, faktor-faktor tadilah yang bisa memaksimalkan kemampuan kreativitas dan produktivitas seorang penulis. Tinggal berkarya teratur dan punya kejaran target dimuat, maka ia akan dapat eksis hidup dari menulis. Saat ini masih banyak media massa yang belum mampu menghargai karya penulis bila dimuat, paling hanya cukup ucapan terima kasih, memberi sertifikat atau kaos. Namun sudah banyak pula media yang memberi penghargaan layak pada para penulis. Bila sudah merasa punya kemampuan menulis, pilihlah media yang bisa memberi honor tulisan.[1] Meski terkadang ada beberapa pilihan bagi penulis, yaitu apakah penulis ketika menulis hanya bermuara pada uang atau tidak, itu di kembalikan pada pribadi penulis masing-masing karena ada banyak juga penulis ketika menuliskan pemikirannya dan lahirlah karya tulisnya hanya untuk menyalurkan idealismenya, bukan semata-mata untuk materi yang berupa uang. Sehingga tulisan tidak harus dihargai dengan materi uang saja tapi bagaimana penulis bisa menyalurkan tulisan-tulisannya bagaikan menemukan dunianya yang hilang sehingga ketika penulis selesai menuliskannya dan mempublikasikannya dalam media meski dalam bentuk Blog, WA, Facebook atau bahkan Mading, bahagia sekali, tiada terkira. Menulis adalah kebahagiaan dalam berpengetahuan, nilai itu yang lebih mujarab untuk terus berkarya melalui tulisan. Maka, ayo kita tetap menulis, menulis, menulis. Meski tidak dibaca setidaknya kita telah menuliskannya walau dalam kesunyian. Suatu saat pasti akan meledak sesuai ruang dan waktu.


*Penulis hanya suka menulis di blog dan di papan tulis serta punya teman-teman yang baik hati di Komunitas Kali Kening Bangilan-Tuban.



[1] Agus Ponda dan Komar Endrasmara, Hari Gini Gak Bisa Nulis?(Jakarta:PT Bhuana Ilmu Populer, 2010), hlm. 43-44.

Label:

Senin, 06 Maret 2017

NU Dalam Kepungan Pasar Modal

Oleh. Rohmat Sholihin*

http://memecomicsantri.blogspot.co.id/2016/05/pesan-agung-pendiri-nu-hadratus-syaikh.html#.WL5KiThaDIU

Nahdlotul Ulama (NU) adalah organisasi sosial-keagamaan yang sangat besar dan umurnya juga boleh dikatakan sudah tidak muda lagi. Basis massa NU tersebar di seluruh pelosok tanah air dan mengakar kuat di lingkungan masyarakat Indonesia. Akan tetapi, jaringan yang luas, massa yang banyak, dan usianya yang sudah cukup tua ini ternyata tidak disertai dengan prestasi-prestasi yang menonjol dan bisa dibanggakan. Bahkan di dalam ranah politik dan ekonomi, NU merupakan organisasi yang hampir selalu menjadi pecundang. Organisasi ini juga hampir tidak pernah mampu mensejahterakan warganya. Dalam sejarahnya, basis massa NU selalu menjadi bagian dari masyarakat Indonesia yang tersisih dan termarginalkan. Ini tentu saja sangat ironis dan memprihatinkan; tidak sebanding dengan jumlah massanya yang sangat besar dan juga usianya yang sudah cukup tua. Parahnya kondisi ini terus berlangsung hingga kini dan bahkan di era sekarang ini, basis massa NU menjadi bulan-bulanan dan korban dari Imperialisme Neoliberal.[1] Bukan hanya organisasi NU tapi negara-negara ketiga atau negara sedang berkembang menjadi mangsa bagi larinya modal investasi negara-negara maju yang bunganya selangit. Termasuk juga negara kita, Indonesia. Posisi NU sebagai organisasi sosial keagamaan yang sangat besar dan dengan jaringan luas belum bisa berbuat banyak dalam menghadapi persaingan global. NU seperti hewan gajah yang di kandangkan oleh neoliberal dan menjadi hewan yang jinak dengan suplai makanan yang tidak seberapa besarnya sesuai dengan kapasitas makanannya setiap hari. Ada ketimpangan yang perlu menjadi pemikiran ke depan oleh kader-kader NU agar lebih memperhatikan masalah besar ini. NU harus bisa menjadi garda depan dalam mengawal serta bermain dengan menyerang dan bertahan dalam menghadapi pasar modal yang kian menguasai segala lini, karena logikanya ruang gerak kapitalis sangatlah lihai dan lincah seperti tupai. Basis massa NU harus bisa andil dan berperan penting dalam masyarakat ekonomi dengan mengembangkan sektor-sektor perkembangan ekonomi yang mampu menghasilkan sumber dana pemasukan bagi organisasi, masyarakat dan negara, bukan berarti NU harus menjadi sebuah perusahaan yang notabene nya bekerja seperti kapitalis tapi NU harus bisa melindungi negara dari himpitan pasar modal yang kian mencekik berupa hutang luar negeri. NU harus aktif dan cerdas menyuarakan masukan kepada pemerintah mengenai program-program pemerintah yang menyimpang. Karena dilihat dari peran dan kiprah NU terhadap kritik negara dirasa sangatlah kurang. Meski banyak tokoh-tokoh NU yang banyak duduk dalam struktur pemerintahan, namun belum bisa mewakili isu-isu yang timbul dari dalam organisasi NU itu sendiri. Kekhawatiran yang timbul, NU hanya jadi kendaraan untuk menduduki posisi kekuasaan atau jabatan saja tanpa perduli untuk merawat dan membesarkannya dengan sepenuh hati. Sehingga masalah-masalah yang timbul dari bawah, grass root NU itu sendiri hanyalah masalah kecil yang tak perlu perhatian khusus dari atas. Baik perhatian tentang masukan pendapat atau ide juga perhatian tentang dana. Karena faktor ini sangatlah penting untuk membangun dan menguatkan pandangan tentang kemajuan organisasi ke depannya. Jangan sampai organisasi besar seperti NU kehabisan peluru dalam membentuk kader-kader muda NU yang brillian hanya karena tidak ada dana. Ironis. Ini jangan sampai terjadi, NU adalah organisasi sosial keagamaan yang di dirikan oleh para ulama untuk mengabdi penuh kepada negara besar ini. NU itu organisasi yang bisa ngemong pemerintah untuk menjadi mitra membangun negara yang berperadaban dengan tidak menghendaki dengan cara kekerasan dan memaksakan negara besar ini menjadi negara yang berbentuk negara Islam. Itu bisa saja dilakukan melihat kekuatan massa NU yang luar biasa besar, namun itu tidak dilakukan karena NU mengingat perjuangan para Wali Songo yang telah menyebarkan ajaran Islam khususnya di tanah Jawa melihat bahwa betapa masih besar jumlah orang Jawa dan seluruh Nusantara yang tidak mau menganut ajaran Islam, beberapa masyarakat masih banyak yang menganut ajaran Kejawen, Hindu, Budha, dan jika itu dipaksakan berapa juta masyarakat yang harus di bunuh karena berseberangan jalan pemikiran tentang agama. NU tetap setia menjaga kedaulatan bangsa yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila.
Namun  saat ini yang menjadi kendala ke depan bukanlah kerukunan keagamaan yang mengalami perpecahan, namun permasalahan yang besar adalah himpitan dan tekanan negara-negara Kapitalis yang telah dengan leluasa mengembangkan modalnya di negeri kita ini. Mulai dari zaman Presiden pertama, Ir. Soekarno begitu kuatnya menghalau Neo Kolonialisme dengan membangun jaringan-jaringan negara yang telah menjadi jajahan negara-negara kapitalis terutama negara-negara yang sedang berkembang  dan baru saja menghirup udara kebebasan. Lahirlah organisasi Non Blok, dengan dalih bahwa negara-negara ini tidak memihak blok barat dan blok timur. Juga anti kolonialisme. Ir Soekarnopun harus tumbang dengan isu yang hampir tidak masuk akal melalui G 30 S/PKI, seakan-akan gerakan ini telah di setting sedemikian rupa dan  muara pangkalnya menuju posisi Soekarno sebagai presiden menjadi pertaruhan. Ketika Presiden Soekarno jatuh, Indonesia bagai tanah subur yang telah terbeli dengan harga murah. Indonesia menjadi ajang pesta negara-negara pemodal untuk menguasai sumber-sumber kekayaan negara berupa sumber daya alam yang melimpah ruah. Yang dari awal telah di jaga oleh Soekarno untuk anak-anak bangsa harus pupus ke tangan kaum kapitalis. Terbukti sudah bahwa anak-anak bangsa bagai hidup dan besar dalam genggaman kekuasaan modal kaum kapitalis. Kita hidup seperti dalam perangkap penjara, dimana kekuasaan kita sebagai rakyat untuk memanfaatkan sumber daya alam sangatlah terbatas, angin saja jika terpenjara selalu mencari celah lubang untuk keluar apalagi manusia.
NU sangat mengecam kapitalis namun hanya sekedar kecaman saja, tak ada tindakan yang lebih spesifik untuk menghalaunya. Karena NU hanyalah organisasi sosial keagamaan yang ruang lingkupnya sangat terbatas, hanya mengurusi umat, tanpa ada campur tangan untuk mengurusi kebijakan-kebijakan yang telah di ambil oleh negara. Dan di tengah posisi bangsa Indonesia yang miskin, tidak benar-benar merdeka, tidak sejahtera, dan juga memiliki beban hutang luar negeri yang sangat besar, komunitas NU dalam hierarki sosial di antara kelompok-kelompok di Indonesia berada dalam posisi bawah: berada di desa-desa dan berbasiskan petani, pedagang, dan nelayan kecil. Secara nasional, posisi komunitas NU sama dengan kelompok abangan yang berbasiskan petani, yang menjadi basis kelompok nasionalis warisan Soekarno, dan warisan kelompok-kelompok orang-orang komunis. Perbedaan kedua kelompok tersebut dengan basis massa NU hanya dalam cara beragama saja, dimana komunitas NU lebih sering disebut sebagai muslim shalih (santri).
Jadi basis masyarakat NU adalah kelompok pinggiran, marjinal, dan miskin. Tidak memiliki badan usaha ekonomi yang besar; tidak memiliki perusahaan-perusahaan yang bisa menambang di hutan; tidak bisa menjadi pebisnis-pebisnis besar di laut; tidak memiliki usaha-usaha perbankan, dan juga tidak memiliki usaha-usaha perhotelan. Komunitas NU yang telah menjadi sarjana sekalipun pada umumnya tidak memiliki posisi strategis; mereka hanya menjadi kelas menengah yang rapuh.
Pemahaman terhadap posisi warga NU ini penting untuk di ketahui dalam rangka merumuskan agenda masa depan. Meskipun ada beberapa warga NU yang masuk kategori masyarakat atas, pada umumnya komunitas NU bukanlah komunitas pusat, bukan menengah ke atas, bukan professional, dan juga bukan pebisnis. Komunitas NU adalah komunitas yang ada dalam rantai terbawah masyarakat Indonesia bersama komunitas abangan dan komunis lain yang berbasiskan petani dan nelayan miskin.[2] Mengutip dari pendapat KH Musthofa Bisri , selama ini NU masih jama’ah. Sehingga tampang NU di luar menjadi aneh. Organisasi seperti ini kok nggak mati saja. Untuk ukuran organisasi, mestinya NU itu sudah bubar, tetapi kok tidak bubar juga, bila di lihat dari kaca mata organisasi. NU ini organisasi apa? NU ini kalau rapat tidak pernah (mencapai) kuorum, keputusan-keputusannya juga tidak pernah mulus. Pokoknya NU itu tidak seperti organisasi.
Tantangan-tantangan ke depan NU memang sangatlah pelik, sebagai organisasi sosial keagamaan yang punya massa paling besar di dunia tapi tidak pernah menjadi kekuatan atau super power untuk menggerakkan massanya menduduki tempat-tempat tertentu dengan semena-mena. NU masih menjadi anak manis yang paling manis di Indonesia. Kebijakan-kebijakan yang di ambil selalu bisa menjadi primadona anak semua bangsa, benar-benar menjadi rahmatallilalamin bagi semua umat. Meski dalam himpitan neokolonialisme yang semakin menghebat NU masih tetap bertahan dengan membawa identitasnya sebagai pengayom umat, NU itu seperti mesin lokomotif tua, meski bergaya mesin klasik dengan ilmu-ilmunya yang selalu berpedoman pada kitab kuning atau klasik tapi dalam gerbong-gerbongnya mampu menampung semua ide dan pendapat-pendapat seluruh umat menuju stasiun keberagaman tanpa memandang rendah bagi komunitas lainnya. Dari kerukunan dan keberagaman itulah modal awal untuk menggerakkan massanya dan mulai menyusun kekuatan dalam bidang ekonomi terutamma perbankan dan pasar modal. Sesuai apa yang telah di sampaikan oleh Presiden RI ke-5 Gus Dur, Gitu saja kok repot. Dan tak ada sesuatu yang merepotkan jika bisa dikerjakan dengan baik. Hidup NU!.

*Penulis Guru MI Salafiyah Bangilan.




[1] Nur Kholik Ridwan, NU dan  Neoliberalisme Tantangan dan Harapan Menjelang Satu Abad (Yogyakarta: PT. LKIS Pelangi Aksara Yogyakarta, 2008), hal. v.
[2] Nur Kholik Ridwan, NU dan  Neoliberalisme Tantangan dan Harapan Menjelang Satu Abad (Yogyakarta: PT. LKIS Pelangi Aksara Yogyakarta, 2008), hal. 15-17.

Label:

Kamis, 08 Desember 2016

Masalah Lingkungan, Masalah Dunia

Google.com

Oleh. Rohmat Sholihin*

            Kabar duka kembali menyelimuti Provinsi Aceh, gempa berkekuatan 6,5 SR kembali menerjang Aceh. Pasca tsunami akhir Desember 2004 yang mengorbankan hampir puluhan ribu orang yang tinggal di Aceh dan Sumatera Utara. Ribuan orang kehilangan tempat tinggal, puluhan infrastruktur hancur total. Puluhan ribu orang mengungsi mencari tempat aman. Belum lagi pemulihan trauma psikis masyarakat juga membutuhkan waktu. Belum lagi yang tidak diketemukan, hilang entah kemana, atau banyak mayat-mayat bergelimpangan tak terdeteksi identitasnya. Pulau itu bagaikan pulau hantu yang masyarakatnya tercekam oleh amuk bencana alam. Apa yang harus kita lakukan jika alam sudah murka?, memang bencana alam terjadi adalah faktor alam yang tidak seimbang dan sulit diprediksi, karena beberapa faktor yang terjadi bisa karena pergeseran lempeng bumi atau juga bisa terjadi akibat ulah tangan manusia. Faktor manusia inilah juga perlu mendapatkan sorotan dari seluruh aspek yang ada.
            Ketika manusia baru memasuki abad industri, abad ke-19, ilmuwan yang tergila-gila pada rasionalisme dan sekularisme, menganggap bumi sebagai sebuah entitas yang mati. Bumi hanya sekedar hamparan tanah, bebatuan, karang, dan air yang bisa dieksploitasi sekehendak manusia. Tidak heran kemudian manusia mengeksploitasi bumi dengan semena-mena tak hanya di darat, tapi juga di laut dan udara. Bahkan sampai akhir abad ke-20 yang baru saja kita tinggalkan, masih banyak manusia menganggap bumi sebagai entitas yang mati. Orang berfikir, bumi bisa diperlakukan apa saja tanpa ada perlawanan.
            Salah satu kekejaman manusia yang tak terkira pada bumi adalah peledakan bom atom. Setelah peledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki oleh Sekutu kelompok negara yang mengaku paling maju dan concern dengan perdamaian di bumi, pada tahun 1945 yang membunuh ratusan ribu manusia, orang-orang masih terus mengembangkan senjata dahsyat tersebut dengan melakukan percobaan di permukaan, di atas (atmosfir) dan di dalam bumi. Sebuah percobaan nuklir di atol Mururoa oleh Perancis (1995) misalnya, yang kekuatannya ribuan kali dari bom atom yang diledakkan di Hiroshima, telah membuat bumi bergetar amat hebat dan akibatnya menggeser garis edar bumi terhadap matahari. Akibatnya, posisi garis edar bumi terhadap matahari berubah dan jarak bumi dengan matahari makin dekat.[1]
            Posisi inilah yang kita khawatirkan bersama, bahkan menjadi masalah dunia. Karena imbasnya juga akan dirasakan oleh masyarakat dunia. Jika jarak bumi dengan matahari semakin dekat seluruh bumi suhunya akan meningkat, dan masa depan kehidupan di bumi semakin membahayakan. Lapisan es yang berada di daerah kutub akan mencair dan air laut akan meningkat yang dikhawatirkan terjadi banjir bandang karena air laut meluap, sejarah akan terulang lagi, yaitu pada peristiwa banjir bandang di zaman nabi Nuh bahkan akan lebih dahsyat lagi. Akibat lapisan es di daerah kutub yang mencair, air laut tak lagi asin berapa kerugian lagi yang kita rasakan?, banyak satwa laut terutama ikan akan banyak yang mati karena kandungan garam menjadi sedikit.
            Di sisi lain pergeseran rotasi bumi berakibat seperti ban mobil yang oleng. Makin lama, olengnya makin besar. Apa yang terjadi jika olengnya makin besar? Gaya sentripetal dan sentrifugal bumi yang mengelilingi matahari tidak seimbang. Bumi akan terjatuh ke matahari karena gaya gravitasi matahari lebih besar.[2] Ada teori yang disampaikan oleh guru mengaji di surau waktu aku masih kecil, nanti jika mendekati hari kiamat jarak bumi dengan matahari makin dekat bahkan jarak dekatnya tak tanggung-tanggung hanya seukuran satu tangan orang dewasa. Aku tak bisa membayangkan jika bumi dengan matahari hanya berjarak begitu dekatnya. Bisa dipastikan bumi berjarak dengan matahari puluhan kilo saja bumi akan panas dan hancur. Kehidupan di bumi sudah punah karena tak ada makhluk hidup di bumi yang bisa bertahan terhadap panas matahari dengan jarak yang begitu dekatnya. The End of The world. Hanya Allah yang tahu. Masalah kapan terjadinya kiamat tak ada yang tahu kapan terjadinya, malaikatpun tak tahu, manusia hanya tahu dari tanda-tandanya saja.
            Dan ironisnya bumi yang makin panas ini makin bertambah panas lagi karena atmosfir bumi dipenuhi gas-gas rumah kaca (green house effect), terutama karbon dioksida sisa kendaraan bermotor yang memakai bahan bakar minyak (BBM). Tiap hari ribuan ton karbon dioksida memenuhi atmosfir. Tak hanya itu, asap kendaraan bermotor dan pabrik juga mengeluarkan gas nitrogen oksida dan belerang oksida. Kedua gas ini jika terkena air hujan akan bereaksi menjadi asam nitrat dan sulfat. Hujan asam akibat gas-gas tersebut telah mengakibatkan banyak hutan meranggas di Eropa dan Amerika, banyak danau-danau yang airnya beracun karena konsentrasi asamnya tinggi. Di Amerika, misalnya, berdasarkan laporan USA Today beberapa hari lalu, pada dekade 1990-an, ratusan danau airnya beracun karena kadar asamnya sangat tinggi. Ikan-ikan dan biota yang hidup di danau pun mati.
            Bagi negara yang tumpuan hidupnya masih pada pertanian seperti Indonesia, hujan asam adalah bencana besar. Lahan-lahan pertanian yang subur bisa menjadi kritis karena unsur haranya larut dalam asam. Menurunnya hasil produksi di lahan-lahan pertanian dekat perkotaan di Indonesia, bisa jadi karena pengaruh hujan asam tersebut karena unsur-unsur hara tanahnya hilang terlarut dalam asam. Jika pemakaian BBM terus meningkat tanpa ada terobosan untuk mencari bahan bakar alternatif yang tak mengeluarkan nitrogen oksida dan sulfur oksida, bukan tidak mungkin kelak, tanah-tanah yang subur di Indonesia akan menjadi lahan kritis yang tak bisa ditanami apa-apa kecuali gulma dan ilalang.
            Bumi tak hanya “sakit” di permukaannya. Selubung penyelamat penghuni bumi yang berada di atmosfir, yaitu lapisan ozon yang menahan sinar ultra violet yang berbahaya, kini terkoyak. Lapisan ozon itu rusak karena manusia menyebarkan CFCs ke atmosfir. Atom kalor yang ada pada gas ini bersifat sebagai katalisator yang merusak lapisan ozon tersebut.[3] Ini bukan hanya persoalan yang harus ditanggung oleh beberapa orang atau negara tapi menjadi permasalahan bagi kita semua. Masalah ini masalah bencana alam, kerusakan dari alam meski ada beberapa faktor dari ulah manusianya sendiri. Alam telah memberikan peringatan melalui bencana yang telah ditimbulkannya agar manusia lebih berhati-hati dalam melakukan alam, marilah kita sama-sama menjaganya, memperhatikannya, merawatnya dengan kaidah-kaidah yang seimbang. Memang alam ini ada adalah untuk manusia tapi juga harus bertanggung jawab untuk menjaganya sebagai amanat dari Allah untuk manusia bahwa manusia di angkat oleh Allah untuk menjadi kholifah di muka bumi bukan menimbulkan kerusakan-kerusakan tapi untuk berbuat kebajikan-kebajikan terhadap yang lain termasuk menjaga kelestarian lingkungan alam.
            Kita harus bersatu padu untuk membangun kelestarian lingkungan mulai dari sekarang. Isu ini bukan isu politik tapi menjadi isu bersama bahkan menjadi isu dunia yang harus segera kita galakkan. Banyak manusia yang hidup di suatu daerah yang mengalami musibah bencana alam, seperti yang saya jelaskan di atas, yaitu bencana alam gempa bumi di Aceh dengan kekuatan 6,5 SR. Dan bencana-bencan alam yang terjadi pada belahan negara lainnya. Semoga kita sebagai manusia agar lebih berhati-hati lagi dalam mengeksploitasi alam yang sudah tua ini karena hampir manusia 6 milyar yang hidup di bumi sebagai taruhannya dan mari kita galakkan program melestarikan alam, karena masalah lingkungan adalah masalah dunia.

*Penulis anggota Komunitas Kali Kening Bangilan-Tuban.
           




[1] Prof. Dr. Hadi  S. Ali Kodra dan Drs. Syaukani HR, MM, Bumi Makin Panas Banjir Makin Luas Menyibak Tragedi Kehancuran Hutan (Bandung:Penerbit Nuansa, 2004), hal. 207-208.
[2] Prof. Dr. Hadi  S. Ali Kodra dan Drs. Syaukani HR, MM, Bumi Makin Panas Banjir Makin Luas Menyibak Tragedi Kehancuran Hutan (Bandung:Penerbit Nuansa, 2004), hal. 208.

[3] [3] Prof. Dr. Hadi  S. Ali Kodra dan Drs. Syaukani HR, MM, Bumi Makin Panas Banjir Makin Luas Menyibak Tragedi Kehancuran Hutan (Bandung:Penerbit Nuansa, 2004), hal. 209.

Label: